tiga jam lebih menunggu giliran untuk dipanggil, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih tapi aku belum juga dipanggil. Selalu diatas dua jam dibuatnya aku menunggu, bahkan kali pertama mengantri, aku menjadi urutan terakhir dan dipanggil diatas jam dua belas malam. Kebayangkan, dokter gigi bekerja dari pukul enam sore sampai dini hari, sampai-sampai terfikir, jangan-jangan nih dokter pernah pulang nyubuh pula.
Keinginan menyambangi dokter gigi bukanlah karena keinginan tulus dari diri sendiri tetapi karena sakit gigi yang dirasa sudah tidak tertahankan dan juga tidak ingin rugi dengan memanfaatkan fasilitas asuransi dari kantor, sehingga membawaku bersabar-sabar menanti namaku dipanggil.
Ini merupakan kunjungan yang kelima kalinya dan merupakan kunjungan pamungkas untuk penambalan sebuah gigiku. Sebenarnya sejak kunjungan pertama, aku sudah menyadari bahwa orang-orang memiliki ketakutan tersendiri dengan dokter gigi bukan lah tanpa sebab, tidak hanya karena peralatannya yang semakin lama semakin modern dan tidak menakutkan, tetapi bagaimana pasien dibuat stress oleh pikiran diri sendiri akibat perintah-perintah sang dokter gigi tercinta. Terlebih lagi jika perawatan dilakukan terhadap sebongkah gigi yang terletak sangat tersembunyi yang memiliki kesulitan tinggi dalam menjangkaunya.
"coba lidahnya jangan diangkat." atau "bibirnya dibuka ya mas!" atau perintah "bernafas lewat normal lewat hidung ya mas". It's easy in the normal situation.
Silahkan mempraktekkan dalam posisi tidur dengan beragam alat berada di dalam mulut, sejak alat pengungkit, bor, penghisap air, dan beberapa alat lainnya, dengan air liur yang tidak boleh tertelan silahkan bernafas dengan normal.
Karena kita tidak terbiasa, dengan kondisi dan situasi seperti itu terkadang membuat tersedak karena "tanpa sadar" bernafas dengan mullut dan"tanpa sadar" mengubah posisi lidah atau "tanpa sadar" menutup bibir sehingga mengganggu "kesibukan" sang dokter gigi terhadap rongga mulut kita.
Anyway seberapapun kita "disiksa" oleh sang dokter gigi, kita akan tetap setia menunggu nama kita dipanggil dalam antrian selanjutnya............
Thursday, September 16, 2010
KH. Soleh Iskandar
Sebelumnya, saya tidak pernah tahu siapa sebenarnya KH. Soleh Iskandar, sampai-sampai namanya diabadikan menjadi nama jalan di kota Bogor. Setelah mencari-cari informasi dengan bantuan om google, ternyata KH. Soleh Iskandar bukanlah nama sembarangan. kiprahnya dimasa perjuangan melawan penjajah dan masa kemerdekaan tidaklah sedikit, khususnya untuk wilayah Bogor dan sekitarnya.
Dilahirkan di daerah Pamijahan Bogor, telah banyak jejak harum yang ditinggalkan, sebagai komandan Hizbullah wilayah Bogor saat perang melawan penjajahan, menjadi pengurus Masyumi pada awal-awal kemerdekaan hingga aktif dalam pendirian pesantren pertanian Darul-Falah, Rumah sakit Islam Bogor dan universitas Ibnu Khaldun.
Pasti karena besarnya jasa-jasa beliau maka nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota Bogor tempat Rumah Sakit Islam Bogor dan universitas Ibnu Khaldun berada.
Ternyata nama harum beliau tidak serta merta diabadikan secara harum oleh pemda Bogor atau siapapun yang memberikan ide pencantuman nama beliau, karena jalan yang menyandang nama beliau dalam kurun waktu 5 tahun terakhir lebih banyak rusaknya dibandingkan dengan bagusnya. Jalan propinsi menjadi salah satu alasan bagi pemda Bogor dalam berargumen mengenai rusaknya jalan ini selain juga menjadikan faktor alam sebagai alasan.
Patut disayangkan memang, penghargaan terhadap jasa KH. Soleh Iskandar diwujudkan dengan penggunaan mencantumkan nama beliau pada jalan yang hampir setiap tahun selalu mengalami kerusakan.
Dilahirkan di daerah Pamijahan Bogor, telah banyak jejak harum yang ditinggalkan, sebagai komandan Hizbullah wilayah Bogor saat perang melawan penjajahan, menjadi pengurus Masyumi pada awal-awal kemerdekaan hingga aktif dalam pendirian pesantren pertanian Darul-Falah, Rumah sakit Islam Bogor dan universitas Ibnu Khaldun.
Pasti karena besarnya jasa-jasa beliau maka nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota Bogor tempat Rumah Sakit Islam Bogor dan universitas Ibnu Khaldun berada.
Ternyata nama harum beliau tidak serta merta diabadikan secara harum oleh pemda Bogor atau siapapun yang memberikan ide pencantuman nama beliau, karena jalan yang menyandang nama beliau dalam kurun waktu 5 tahun terakhir lebih banyak rusaknya dibandingkan dengan bagusnya. Jalan propinsi menjadi salah satu alasan bagi pemda Bogor dalam berargumen mengenai rusaknya jalan ini selain juga menjadikan faktor alam sebagai alasan.
Patut disayangkan memang, penghargaan terhadap jasa KH. Soleh Iskandar diwujudkan dengan penggunaan mencantumkan nama beliau pada jalan yang hampir setiap tahun selalu mengalami kerusakan.
Tuesday, September 14, 2010
Kecoa di sekitar ku
ini bukan membicarakan kecoa dalam arti kiasan, tetapi kecoa dalam arti yang sesungguhnya, serangga berkaki banyak yang sebagian besar orang jijik melihatnya. Ternyata hidupku tidak bisa dilepaskan dari keseharian makhluk ciptaan tuhan tapi yang dibenci oleh sebagian umatnya. Tidak dirumahku sekarang ataupun di rumah tempat aku dibesarkan dan melalui masa-masa SD, SMP, SMA keberadaan makhluk ini merajalela.
Di rumah ku saat ini pembasmi hama semprot yang di jual bebas menjadi teman setia dalam menganggulangi keberadaan si Kecoa ini, ditinggal dua malam saja rumah dalam keadaan kosong, Kecoa sudah mulai menguasai khususnya di sekitar kamar mandi.
Dalam minggu ini ternyata info mengenai Kecoa juga mengisi hari-hari ku, mulai dari otak Kecoa yang bisa menjadi obat penyakit manusia hingga cara mudah mentranslokasikan si Kecoa dengan menggunakan buah mentimun atau dalam bahasa Inggris disebut Cucumber.
Bagaimanapun, sepertinya selama aku masih menempati rumah yang saat ini dengan setia ku jadikan tempat untuk pulang, maka keseharian ku akan tidak terlepas dari alat pembasmi hama semprot dan sang Kecoa.
Di rumah ku saat ini pembasmi hama semprot yang di jual bebas menjadi teman setia dalam menganggulangi keberadaan si Kecoa ini, ditinggal dua malam saja rumah dalam keadaan kosong, Kecoa sudah mulai menguasai khususnya di sekitar kamar mandi.
Dalam minggu ini ternyata info mengenai Kecoa juga mengisi hari-hari ku, mulai dari otak Kecoa yang bisa menjadi obat penyakit manusia hingga cara mudah mentranslokasikan si Kecoa dengan menggunakan buah mentimun atau dalam bahasa Inggris disebut Cucumber.
Bagaimanapun, sepertinya selama aku masih menempati rumah yang saat ini dengan setia ku jadikan tempat untuk pulang, maka keseharian ku akan tidak terlepas dari alat pembasmi hama semprot dan sang Kecoa.
Thursday, August 26, 2010
Papua: landskap eropa di garis ekuator
Salah satu mimpi yang selama ini ada akhirnya terwujud. aku bisa pergi ke Papua, tanah yang dulu menjadi angan-angan untuk datang kesana. Pertama menjejakkan kaki di tanah Papua, ketakjuban yang diberikan. Memandang bangunan bandara Sentani di Jayapura dengan latar belakang gugusan pegunungan yang salah satu ujungnya masih diliputi kabut tebal memberikan kesan eksotis tersendiri, yang ternyata kekaguman terhadap tanah Papua tidak surut sampai disitu saja.
Tiba di Wamena membawa kepada peradaban beberapa puluh tahun mundur ke belakang, di sepanjang jalan beraspal masih dijumpai orang dengan bertelanjang bulat hanya berbalut koteka yang melindungi bagian kemaluannya. Di sana-sini orang masih sibuk mengunyah pinang yang sudahs emakin jarang dijumpai di kehidupan masyarakat Jawa, jejak-jejak tertinggal berupa ceceran warna merah muda menandakan mereka masih menikmati suasana mengunyah buah kecil dari bangsa palem tersebut.
Menyusuri jalan lembah baliem yang beraspal bagus dan sepi, hanya satu dua kendaraan yang dijumpai kesejukan angin di ketinggian 1600 mdpl membuat lebih memilih membuka jendela kendaraan dibandingkan hembusan AC. Pemandangan yang diberikan sepanjang perjalanan membuat diri takjub, seperti menikmati perjalanan di gugusan benua eropa dengan susunan pegunungan dan hamparan padang hijaunya. Kala pagi tiba, kabut masih leluasa memasuki kota memberikan kesejukan lebih bagi orang-orang yang sudah berlalulalang.
Dari atas pesawat berbaling-baling yang setiap penumpang sesuka hati memilih tempat duduk, hamparan hijau merata sepanjang mata memandang, pertanda savana yang luas dan hutan yang masih belum terkoyak.
Tiba di Wamena membawa kepada peradaban beberapa puluh tahun mundur ke belakang, di sepanjang jalan beraspal masih dijumpai orang dengan bertelanjang bulat hanya berbalut koteka yang melindungi bagian kemaluannya. Di sana-sini orang masih sibuk mengunyah pinang yang sudahs emakin jarang dijumpai di kehidupan masyarakat Jawa, jejak-jejak tertinggal berupa ceceran warna merah muda menandakan mereka masih menikmati suasana mengunyah buah kecil dari bangsa palem tersebut.
Menyusuri jalan lembah baliem yang beraspal bagus dan sepi, hanya satu dua kendaraan yang dijumpai kesejukan angin di ketinggian 1600 mdpl membuat lebih memilih membuka jendela kendaraan dibandingkan hembusan AC. Pemandangan yang diberikan sepanjang perjalanan membuat diri takjub, seperti menikmati perjalanan di gugusan benua eropa dengan susunan pegunungan dan hamparan padang hijaunya. Kala pagi tiba, kabut masih leluasa memasuki kota memberikan kesejukan lebih bagi orang-orang yang sudah berlalulalang.
Dari atas pesawat berbaling-baling yang setiap penumpang sesuka hati memilih tempat duduk, hamparan hijau merata sepanjang mata memandang, pertanda savana yang luas dan hutan yang masih belum terkoyak.
Label:
landskap eropa,
lembah baliem,
papua,
wamena
Thursday, April 22, 2010
alternatif ku antara lebakbulus--bogor
Bagaimanapun perjalanan dari rumah menuju tempat kerja pulang pergi haruslah dinikmati, karena mau gimana lagi kan. Jalur sehari-hari yang dilewati saat ini adalah dari Lebak bulus di Jakarta Selatan ke arah Bogor. melewati hari-hari spanjang jalan tersebut, paling tidak terdapat empat alternatif moda transportasi umum yang semuanya menggunakan dataran aspal. tiga diantaranya pernah dijajal. Ketiga alternatif tersebut menggunakan jalur tol jagorawi sebagai media perantaranya.
Pertama adalah dengan menggunakan bis reguler Agramas berkapasitas sekitar 55 penumpang berwarna dominan merah melayani jalur Lebakbulus-Bogor. Rentang waktu perjalanan sekitar 45 menit dengan tarif Rp. 11.500,-.
Kedua jika berangkat dari Bogor menggunakan bis apa saja yang melayani ke arah Kampung Rambutan atau Pasar Rebo dengan tarif Rp. 7.000,- kemudian disambung dengan bis Koantas Bima 109 melayani jurusan Kampung Rambutan-Lebak Bulus dengan tarif seharga Rp. 2.500,-
Ketiga adalah dengan menggunakan moda Taksi dengan tarif sekitar Rp. 150.000,- belum termasuk dengan karcis tol. Lebih nyaman dibandingkan moda yang lain dan lebih cepat namun tidak untuk ukuran kantong.
Jalur yang keempat, yang belum pernah dicoba adalah menggunakan bis pusaka atau yang lainnya yang melayani jalur Bogor-Lebakbulus melewati Parung dan Ciputat.
Pertama adalah dengan menggunakan bis reguler Agramas berkapasitas sekitar 55 penumpang berwarna dominan merah melayani jalur Lebakbulus-Bogor. Rentang waktu perjalanan sekitar 45 menit dengan tarif Rp. 11.500,-.
Kedua jika berangkat dari Bogor menggunakan bis apa saja yang melayani ke arah Kampung Rambutan atau Pasar Rebo dengan tarif Rp. 7.000,- kemudian disambung dengan bis Koantas Bima 109 melayani jurusan Kampung Rambutan-Lebak Bulus dengan tarif seharga Rp. 2.500,-
Ketiga adalah dengan menggunakan moda Taksi dengan tarif sekitar Rp. 150.000,- belum termasuk dengan karcis tol. Lebih nyaman dibandingkan moda yang lain dan lebih cepat namun tidak untuk ukuran kantong.
Jalur yang keempat, yang belum pernah dicoba adalah menggunakan bis pusaka atau yang lainnya yang melayani jalur Bogor-Lebakbulus melewati Parung dan Ciputat.
Sunday, March 14, 2010
Melasnya nasib sang emban
Di kota besar seperti Jakarta, tersedia beragam hiburan untuk keluarga. Pada saat akhir pekan, seperti sabtu atau minggu, pusat perbelanjaan yang merajalela di Jakarta dijadikan sebagai salah satu alternatif tempat berkongkow-kongkow bersama keluarga. Ditambah dengan penawaran-penawaran "sale" yang menggiurkan menjadi daya tarik tersendiri untuk para keluarga metropolitan. Meskipun hanya sekedar "window shopping" atau sekedar menikmati makan di luar.
Tidak hanya yang berusia dewasa, tapi juga tidak ketinggalan anak-anak usia balita hingga bayi pun turut dibawa menikmati suasana mall. Bagi keluarga yang membawa bayi atau balita biasanya ekstra bawaan yang dibawa menyertai sang bayi selain popok sekali pakai dan susu hangat juga yang menjadi trend adalah membawa kereta bayi berikut emban pengasuh.
Emban pengasuh yang menyertai keluarga metropolis dapat dengan mudah diketahui dari seragam mereka yang berwarna putih atau hijau muda, atau kalaupun tidak berseragam namun terlihat yang paling banyak membawa barang bawaan, paling tidak satu paket tas berisi perlengkapan anak asuhannya.
Ternyata diantara kegembiraan keluarga-keluarga tersebut dalam menikmati suasana pusat perbelanjaan Jakarta yang megah dan sangat berwarna terselip ketimpangan perlakuan yang terjadi. Siang ini di sebuah food court yang terletak di lantai bawah pusat perbelanjaan terkenal di seputaran Senayan nampak tidak terlalu ramai. Ada beberapa keluarga dan pasangan yang sedang menikmati makan siang dengan menu kesukaan masing-masing. Rasa ketertarikan untuk memperhatikan perilaku orang-orang tersebut muncul. Tidak jauh dari tempat aku menikmati makan siang, nampak sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu dengan dua anak serta seorang emban pengasuh. sang ibu nampak menikmati soto untuk makan siangnya, sementara anak laki-lakinya yang paling besar berusia sekitar 7 tahun nampak dengan lahapnya menikmati es campur dengan potongan kelapa muda di atasnya. Anak perempuannya yang berusia sekitar 4 tahun nampak duduk dipangku oleh embannya sedang menikmati dinginnya teh botol. Ada gambaran yang salah atau kurang? tidak ada jika dengan mengecualikan kehadiran sang emban disana.
Sang emban tampak dengan setia memangku sang anak perempuan sembari sesekali memegangi botol berisi teh dingin untuk diberikan kepada sang asuhannya tersebut. terlihat tidak tersedia satu mangkuk soto, ataupun satu cangkir es campur atau bahkan satu botol teh dingin di hadapan sang emban. Bagian meja dihadapan sang emban masih seperti saat mereka belum duduk di seputar meja tersebut, hanya tercemari lelehan air dari botol minum sang anak perempuan. Dengan pandangan yang hanya dimengerti oleh sang emban, dia menikmati suasana sekitaran, celoteh-celoteh diselingi tawa dan canda, kepulan asap rokok dari arah wilayah boleh merokok, gemerincing alat makan yang dirapihkan kembali oleh para pelayan tanpa menikmati makan siang bersama tuannya karena memang kehadirannya disana bukan untuk makan siang, tapi untuk bekerja.
Tuesday, March 09, 2010
Gajah pun membayar
Gajah sumatera yang mempunyai nama latin Elephas maximus sumatrensis merupakan salah satu jenis mamalia besar yang terdapat di Sumatera. Menurut Wikipedia, Gajah Sumatera memiliki postur lebih kecil dibandingkan dengan gajah diwilayah India. Berdasarkan survey tahun 2000, menurut Wikipedia jumlah populasi gajah sumatera berkisar 2000-2700 individu.
Distribusi gajah sumatera menurut Waldemar dalam website Warsi menyebar sepanjang Sumatera, dari Lampung hingga Aceh dan ditemukan di berbagai tipe ekosistem mulai dari hutan pantai hingga ketinggian 1750 mdpl.
Konflik dengan gajah berkembang seiring dengan pertambahan penduduk dan meluasnya areal pertanian, perkebunan dan pemukiman. Daerah yang sebelumnya menjadi daerah jelajah gajah dikuasai oleh manusia untuk dijadikan tempat untuk hidup.
Gajah mencari makan dengan cara browser yaitu dengan memetik atau mematahkan bagian dari tumbuhan yang dijadikan pakan. Karena daerah jelajahnya telah menjadi ladang dan kebun maka tidak jarang daun pohon karet, ubi kayu, dan tanaman pertanian lainnya.
Namun jangan salah, walaupun hidup liar, gajah tidak pernah mengambil makanan secara gratis. Gajah membayar makanan yang dimakan melalui feses yang mereka keluarkan. Sisa makanan yang masuk kedalam tubuhnya dikeluarkan dalam bentuk feses bermanfaat sebagai pupuk alami bagi pertumbuhan tanaman baru di daerah jelajah gajah. Sehingga, tidak ada kata gratis bagi Gajah.
Distribusi gajah sumatera menurut Waldemar dalam website Warsi menyebar sepanjang Sumatera, dari Lampung hingga Aceh dan ditemukan di berbagai tipe ekosistem mulai dari hutan pantai hingga ketinggian 1750 mdpl.
Konflik dengan gajah berkembang seiring dengan pertambahan penduduk dan meluasnya areal pertanian, perkebunan dan pemukiman. Daerah yang sebelumnya menjadi daerah jelajah gajah dikuasai oleh manusia untuk dijadikan tempat untuk hidup.
Gajah mencari makan dengan cara browser yaitu dengan memetik atau mematahkan bagian dari tumbuhan yang dijadikan pakan. Karena daerah jelajahnya telah menjadi ladang dan kebun maka tidak jarang daun pohon karet, ubi kayu, dan tanaman pertanian lainnya.
Namun jangan salah, walaupun hidup liar, gajah tidak pernah mengambil makanan secara gratis. Gajah membayar makanan yang dimakan melalui feses yang mereka keluarkan. Sisa makanan yang masuk kedalam tubuhnya dikeluarkan dalam bentuk feses bermanfaat sebagai pupuk alami bagi pertumbuhan tanaman baru di daerah jelajah gajah. Sehingga, tidak ada kata gratis bagi Gajah.
kiat ketika mogok di sumatera
Mogok, adalah suatu peristiwa yang sangat menjengkelkan, merupakan kejadian dimana kendaraan kita, baik itu roda dua, roda tiga, roda empat atau bahkan lebih akan berhenti secara mendadak di saat dan tempat yang tidak tepat dengan berbagai macam sebab. Sebabnya bisa karena kehabisan bahan bakar, kerusakan mesin, atau bahkan karena hal-hal yang diluar akal sehat.
Ketika hal ini terjadi, tidak pula melihat tempat, bisa ditengah kemacetan Jakarta, bisa saat berada di jalan tol, bisa saat baru keluar dari garasi, bisa ditengah kerusuhan, atau ditempat yang sepi.
Menghadapi situasi tersebut, ternyata ada kiat yang dimiliki oleh pengemudi yang biasa mengarungi jalur lintas timur, tengah ataupun barat di pulau sumatera. Patut diketahui bahwa jalur darat Sumatera masih banyak yang melewati daerah hutan yang notabene tidak banyak aktivitas manusia ataupun pemukiman, sehingga jika mogok terjadi bisa banyak kemungkinan yang terjadi, mulai dari kesulitan mencari bantuan hingga ancaman kriminalitas.
Kiat yang dilakukan adalah ketika mogok terjadi khususnya di daerah sepi seperti di daerah berhutan maka kendaraan, khususnya roda empat atau lebih dihentikan di tengah jalan. Kenapa begitu? bukankah akan mengganggu kendaraan lain yang akan melintas? betul, karena memang itulah maksudnya agar kendaraan yang searah dan berlawanan arah tidak dapat lewat, sehingga kalaupun kendaraan lain tidak dapat membantu paling tidak ada teman selama belum dapat kembali jalan.
Hebat kan idenya, nyusahin orang lain sih.........
Ketika hal ini terjadi, tidak pula melihat tempat, bisa ditengah kemacetan Jakarta, bisa saat berada di jalan tol, bisa saat baru keluar dari garasi, bisa ditengah kerusuhan, atau ditempat yang sepi.
Menghadapi situasi tersebut, ternyata ada kiat yang dimiliki oleh pengemudi yang biasa mengarungi jalur lintas timur, tengah ataupun barat di pulau sumatera. Patut diketahui bahwa jalur darat Sumatera masih banyak yang melewati daerah hutan yang notabene tidak banyak aktivitas manusia ataupun pemukiman, sehingga jika mogok terjadi bisa banyak kemungkinan yang terjadi, mulai dari kesulitan mencari bantuan hingga ancaman kriminalitas.
Kiat yang dilakukan adalah ketika mogok terjadi khususnya di daerah sepi seperti di daerah berhutan maka kendaraan, khususnya roda empat atau lebih dihentikan di tengah jalan. Kenapa begitu? bukankah akan mengganggu kendaraan lain yang akan melintas? betul, karena memang itulah maksudnya agar kendaraan yang searah dan berlawanan arah tidak dapat lewat, sehingga kalaupun kendaraan lain tidak dapat membantu paling tidak ada teman selama belum dapat kembali jalan.
Hebat kan idenya, nyusahin orang lain sih.........
Wednesday, June 17, 2009
Ayah gak sayang ya sama dia?
Senin kemarin merupakan harinya nit-nit dan za-za, sudah ku sms teh lilis sang administratur bahwa hari ini aku akan tinggal di Bogor. Setelah bersusah payah memandikan dan memakaikan baju mereka, mereka sibuk bermain di halaman sementara aku merapihkan reruntuhan-reruntuhan aktivitas kedua perempuan itu malam sebelumnya.
Disaat merapihkan, terdengar teriakan mereka dari halaman depan memangil-manggil. Bergegas kuhampiri, khawatir ada apa-apa ternyata mereka ingin menikmati naik odong-odong. Tanpa menunggu persetujuan ku keduanya memanggil pengayuh odong-odong yang masih agak jauh jaraknya. Mau gak mau deh memenuhi keinginan mereka.
Dua lagu sudah berlalu, cukup sudah untuk mereka menikmati odong-odong. Setelahnya kembali kami ke halaman. Tidak berselang lama muncul seorang anak kecil usia 10 tahunan berpakaian kemeja lengan panjang kotak-kotak berwarna merah dan bercelana panjang warna coklat muda. Ditangannya membawa sebuah platik fotokopi berisi sebuah map hijau.
Anak itu menghampiri rumahku, belum sempat dia mengucapkan kata-kata, aku sudah memotong dengan ucapan "maaf ya dik, yang lain saja.". anak yang menggunakan kopiah hitam lusuh itu langsung berlalu. Tiba-tiba Nitya mengajukan pertanyaan yang tidak aku duga, "Kenapa ayah nggak ngasih dia?", ku jawab sekenanya mengiyakan tanpa memberikan alasan.
Selanjutnya keluar pertanyaan yang tidak kuperkirakan yang membuat aku tidak bisa menjawab pertanyaannya...."ayah enggak sayang ya sama dia?......"
Monday, June 15, 2009
TURTLE VISION-TERJEMAHAN YANG MENGGANGGU
14 juni 2009 merupakan hari pertama pemutaran film baru dalam wahana 4D Gelanggang Samudra Jaya Ancol. Film yang berjudul "turtle vision" ini bercerita mengenai petualangan seekor penyu bernama Sammy bersama seekor sahabatnya yang selalu berhubungan dengan aktivitas manusia. Diceritakan bagaimana manusia mempengaruhi kehidupan si-Sammy ini mulai dari pencemaran akibat tumpahnya minyak hingga dia terselamatkan secara tidak sengaja akibat ulah penebang liar di daratan asia.
Film ini menarik karena mudah dicerna alur ceritanya oleh anak-anak sehingga dapat memberikan pemahaman dalam jalur yang baru mengenai lingkungan dan manusia. Ditambah lagi dengan fasilitas dalam wahana 4D yang dapat memberikan perasaan menyatu dengan apa yang dialami oleh Sammy dan sahabatnya.
Satu hal yang mengganjal dari film ini adalah terjemahan yang dipakai tampaknya terlalu bebas dan sang penterjemah pun seperti tidak melakukan penelitian sebelumnya. Turtle dalam film ini diterjemahkan sebagai "kura-kura" yang sebenarnya pada kenyataannya sebenarnya adalah seekor "penyu". Terdapat perbedaan yang sangat nyata antara kura-kura dan penyu meskipun dalam bahasa inggris menggunakan kata yang tidak terlalu berbeda yaitu "turtle", diantara perbedaan itu adalah Penyu hidup di lautan yang berair asin sedangkan kura-kura hidup di air tawar dan penyu tidak dapat menyembunyikan anggota tubuhnya ke dalam cangkangnya tidak seperti kura-kura.
Muata pendidikan lingkungan dalam film ini menjadi agak terganggu ketika dalam salah satu dialog di film ini menyebutkan sebagai "kura-kura hijau" bukan "penyu hijau". Tentunya kata-kata tersebut akan diingat oleh anak-anak setelah mereka meninggalkan gedung pertunjukan.
Film ini memang bukan yang pertama memiliki kelemahan dalam menterjemahkan nama atau istilah asing ke dalam bahasa lokal. Tidak sedikit feature-feature lingkungan dan flora fauna di televisi yang diterjemahkan sekenanya.
Media seperti TV, Radio atau wahana 4D harapannya tidak hanya sebagai media informasi namun juga sebagai wahana mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, sehingga diharapkan pula informasi yang diberikan tidak berupa informasi yang rancu dan membuat bingung bagi yang menikmati atau memanfaatkannya.
Label:
4D,
Gelanggang Samudra Jaya Ancol,
kura-kura,
penyu
Friday, June 12, 2009
WAKATOBI MERAMBAH TEKNOLOGI
Jika mencari yang berhubungan dengan kata "wakatobi" di mesin pencari yang akan banyak muncul adalah segala hal yang berhubungan dengan dunia penyelaman dan resort pantai yang eksotik.

Wakatobi adalah satu daerah di Sulawesi Tenggara yang didominasi oleh laut, dengan wilayah seluas 14000 Ha dimana 9000 Ha diantaranya adalah Terumbu karang. Nama wakatobi berasal dari singkatan nama 4 pulau besar di kawasan tersebut, yaitu WAngi-wangi, KAledupa, TOmia dan BInongo.
Wakatobi merupakan satu-satunya kabupaten di Indonesia yang juga merupakan Taman Nasional, ditetapkan sejak 1996. Kawasan ini merupakan salah satu lokasi prioritas perlindungan laut di Indonesia. Saat ini paling tidak ada dua organisasi konservasi dunia yang "bermain" di daerah ini, yaitu TNC dan WWF.
Saat ini, nama wakatobi tidak lagi hanya dihubungkan dengan terumbu karang, menyelam, serta orang bajo-nya yang hidup di laut, namun juga dipergunakan sebagai nama produk laptop keluaran dalam negeri dari pabrikan Zyrex. paling tidak itu yang terlihat pada saat Festival Komputer Indonesia di Jakarta Convention Center tanggal 10-14 Juni 2009.
Entah bagaimana nama tersebut dapat menginspirasi pembuat laptop yang dihargai 4,7 juta dan 9 juta-an ini. Namun dipastikan wakatobi memberikan kesan mendalam bagi seseorang sehingga menamakan produknya dengan nama yang sama.
Akan sangat lebih berkesan sehingga penamaan laptop tersebut juga dapat memiliki kontribusi terhadap di Wakatobi itu sendiri, entah bagaimana bentuknya namun kehadiran si laptop menambah nilai penghargaan terhadap keberadaan Wakatobi di bagian tenggara Sulawesi sana.
Monday, June 08, 2009
internet for love
Itulah yang terjadi dengan tante Susi, seorang tetangga ku yang tinggal berseberangan rumah.
Sabtu malam kemarin aku sekeluarga pergi ke resepsi yang dilakukan di sebuah restoran sederhana yang terletak di seberang toko buku besar di kawasan Matraman. Perjalanan cukup melelahkan dari Bogor selama kurang lebih dua jam. setiba di lokasi, ruangan sudah terisi penuh oleh para undangan. Di pelaminan, kedua mempelai sedang diwawancarai oleh pembawa acara mengenai kronologis bagaimana keduanya bertemu.
Tante Susi menikah dengan Robert, seorang profesor dari Belgia. Perkenalan mereka dimulai dengan perkenalan melalui internet via chatting room, berlanjut dengan berkiriman e-mail dan via telepon. Tersebutkan lewat wawancara yang dilakukan, bahwa mereka hampir setiap hari berkomunikasi lewat kedua sarana komunikasi tersebut. Lewat telepon, sang calon mempelai pria menanyakan kesediaan tante Susi untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan dan di jawab setuju.
Perbedaan jarak, budaya & bangsa tidak menjadi penghalang dua manusia untuk bersatu dalam pernikahan meskipun juga belum pernah bertemu. Itulah hak prerogatif Tuhan menentukan siapa menjadi pasangan siapa.
Selamat menempuh hidup baru untuk Tante Susi dan Robert
Tuesday, May 12, 2009
Saat Penjaga adalah Perusak
Miris memang tapi begitulah kenyataannya. Ternyata memang tidak semua orang yang ditugaskan sebagai penjaga kelestarian hutan melaksanakan tugasnya atas dasar hati, tapi hanyalah karena tuntutan pekerjaan sehingga, semestinya orang-orang ini menjadi pengayom dan contoh bagi orang lain ternyata menjadi sebaliknya, menjadi contoh bagi orang lain untuk merusak ekosistem yang ada.
Saturday, May 02, 2009
knowing-cara buat kiamat itu sangatlah mudah
Semalam bersama beberapa teman, melepas kepenatan sehari-hari dengan nonton bareng film knowing yang dibintangi Nicholas Cage. Film ini bercerita tentang bagaimana mudahnya Tuhan menciptakan kiamat buat manusia. Cukup dengan sedikit membuat loncatan bunga api dari matahari ke arah Bumi, maka peradaban di muka bumi segera musnah. Tapi sebenarnya diluar itu semua, tanpa tuhan turut ikut campur tangan pun, manusia sudah menciptakan kiamat-kiamat buat mereka sendiri.
Penebangan hutan dengan tidak memperhatikan asas kelestarian, eksploitasi sumberdaya tambang dan perikanan secara berlebihan, tidak mempedulikan sampah yang dibuang sehari-hari sudah cukup menciptakan kiamat-kiamat kecil bagi umat manusia.
Tuesday, April 07, 2009
di satu tempat
di satu tempat di Selatan Jakarta
di sebuah pojok pusat perbelanjaan besar
ditemani musik rasta dan diskusi ringan meja seberang
mengacuhkan lalu lalang orang yang keluar dan masuk
Di satu tempat di Selatan Jakarta
di kebiasaan yang tidak biasa lima tahun sebelumnya
ditemani coklat dingin dan sebuah donat
menikmati facebook dan imel gratisan
Di satu tempat di Selatan Jakarta
tersenyum memandang sosok diseberang meja
ditengah alunan Santana
akankah kembali terulang......
di satu tempat di Selatan Jakarta
Monday, November 24, 2008
PERTUNJUKAN TEATRIKAL TENTANG MANGROVE
Satu persatu anggota kelompok pengamatan tumbuhan tampil dihadapan para peserta yang lain dengan membawa selembar kertas berisi nama-nama tumbuhan mangrove diiringi monolog seorang penampil lainnya yang menerangkan tentang mangrove dan kondisinya saat ini di Jakarta. itu adalah penampilan salah satu kelompok siswa SMA yang berasal dari 30 sekolah setingkat SMA di wilayah Jakarta yang tergabung dalam komunitas Teen Go Green yang diinisiasi oleh Yayasan Kehati & Ancol.
Selama satu hari penuh difasilitasi oleh relawan Jakarta Green Monster, dimulai pukul setengah sepuluh sekitar 70 pelajar berkumpul di Suaka Margasatwa Muara Angke. Diawali dengan penjelasan mengenai kawasan oleh pak Taton, seorang staff BKSDA, selanjutnya mereka mengelompokkan diri dalam 3 kelompok besar, berdasarkan aktivitas yang akan diikuti, yaitu pengamatan Tumbuhan, satwa dan polusi. Kelompok pengamatan tumbuhan & sebagian kelompok pengamat satwa melakukan aktivitas di Hutan Lindung Angke kapuk, sementara kelompok pengamatan polusi dan sebagain pengamatan satwa melakukan kegiatan di Suaka Margasatwa Muara Angke.
Setelah kurang lebih 2 jam melakukan aktivitas di kelompok masing-masing. Kelompok tumbuhan membuat herbarium, kelompok satwa melakukan identifikasi burung dan hewan lain yang dijumpai, dan kelompok polusi mengukur kadar BOD dan pH air sungai, semua kelompok kembali ke Suaka Margasatwa Muara Angke untuk beristirahat dan makan siang.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan presentasi dari setiap kelompok pengamatan, dan hasilnya salah satunya adalah apa yang telah ditampilkan oleh kelompok tumbuhan dalam bentuk treatikal. Dengan menggunakan media yang telah disediakan, seperti kertas berwarna, spidol warna, lem, kertas plano, setiap kelompok membuat presentasi semenarik mungkin.
Selama satu hari penuh difasilitasi oleh relawan Jakarta Green Monster, dimulai pukul setengah sepuluh sekitar 70 pelajar berkumpul di Suaka Margasatwa Muara Angke. Diawali dengan penjelasan mengenai kawasan oleh pak Taton, seorang staff BKSDA, selanjutnya mereka mengelompokkan diri dalam 3 kelompok besar, berdasarkan aktivitas yang akan diikuti, yaitu pengamatan Tumbuhan, satwa dan polusi. Kelompok pengamatan tumbuhan & sebagian kelompok pengamat satwa melakukan aktivitas di Hutan Lindung Angke kapuk, sementara kelompok pengamatan polusi dan sebagain pengamatan satwa melakukan kegiatan di Suaka Margasatwa Muara Angke.
Setelah kurang lebih 2 jam melakukan aktivitas di kelompok masing-masing. Kelompok tumbuhan membuat herbarium, kelompok satwa melakukan identifikasi burung dan hewan lain yang dijumpai, dan kelompok polusi mengukur kadar BOD dan pH air sungai, semua kelompok kembali ke Suaka Margasatwa Muara Angke untuk beristirahat dan makan siang.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan presentasi dari setiap kelompok pengamatan, dan hasilnya salah satunya adalah apa yang telah ditampilkan oleh kelompok tumbuhan dalam bentuk treatikal. Dengan menggunakan media yang telah disediakan, seperti kertas berwarna, spidol warna, lem, kertas plano, setiap kelompok membuat presentasi semenarik mungkin.
Saturday, August 16, 2008
refleksi 17-an
Wuih....sudah lama juga enggak ngisi blog ini, jadi berdebu dan sedikit kusam. Pukul 1.02 tanggal 17 Agustus 2008, saat penting bagi bangsa Indonesia karena ini merupakan kali ke 63 dirayakan kemerdekaan Indonesia.
63 bukanlah waktu yang singkat, Rasulullah wafat pada usia 63 tahun dengan meninggalkan segudang keberhasilan dan kemegahan yang tidak hanya dirasakan pada masanya namun juga menjadi panutan bagi sebagian umat manusia di muka bumi. untuk sebuah pernikahan, angka 63 merupakan angka dimana sepasang suami istri sudah melewati masa pernikahan emas.
63 saat ini disandang Indonesia, dengan beranekaragam kisah di dalamnya. Mulai dari pemiskinan masyarakat dengan BLT hingga ketidakmampuan pemerintah berdiri sendiri dalam mengelola sumberdaya minyak, mulai dari kisah Ryan sang jagal hingga bekas pejabat dan pejabat yang diperiksa KPK.
Di angka 63 waktunya kembali merefleksi lagi kemana arah bangsa ini hendak dibawa..............
63 bukanlah waktu yang singkat, Rasulullah wafat pada usia 63 tahun dengan meninggalkan segudang keberhasilan dan kemegahan yang tidak hanya dirasakan pada masanya namun juga menjadi panutan bagi sebagian umat manusia di muka bumi. untuk sebuah pernikahan, angka 63 merupakan angka dimana sepasang suami istri sudah melewati masa pernikahan emas.
63 saat ini disandang Indonesia, dengan beranekaragam kisah di dalamnya. Mulai dari pemiskinan masyarakat dengan BLT hingga ketidakmampuan pemerintah berdiri sendiri dalam mengelola sumberdaya minyak, mulai dari kisah Ryan sang jagal hingga bekas pejabat dan pejabat yang diperiksa KPK.
Di angka 63 waktunya kembali merefleksi lagi kemana arah bangsa ini hendak dibawa..............
Tuesday, July 08, 2008
BENTENG STELSEL DI HUTAN MANGROVE
Salah satu kunci kekalahan Tuanku Imam Bonjol yang terkenal dengan perang Padrinya adalah strategi yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan meletakkan pos-pos penjagaan di setiap daerah yang telah dikuasainya sehingga membatasi pergerakan para pejuang dan memecah konsentrasi jumlah pejuang. Strategi ini dikenal dengan istilah benteng stelsel.
Pada masa pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Tentara Republik Indonesia menerapkan operasi pagar betis dengan membuat pos-pos penjagaan di jarak tertentu di kaki gunung untuk memutus pergerakan dan distribusi logistik pihak pemberontak.
Teknik yang tidak terlalu berbeda rupanya saat ini dilakukan di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, entah itu namanya benteng stelsel atau pagar betis. Bukan karena disana ada pemberontak atau untuk menumpas perlawanan bersenjata hal itu dilakukan, dan wujudnya pun tidak dalam bentuk bangunan benteng yang disertai senjata api.
Taman wisata Alam Angke Kapuk merupakan sebuah kawasan hutan yang terletak di pantai utara Jawa yang secara administrative berada di Jakarta Utara. Kawasan ini dibawah pengelolaan Balai konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta yang pengelolaannya dikonsesikan kepada pihak ketiga dalam hal ini adalah pihak PT Murindra. Selama ini permasalahan yang timbul dari sudut pandang pengelola adalah keberadaan tambak-tambak didalam kawasan. Usaha-usaha mengeluarkan petambak dari dalam kawasan telah banyka dilakukan, mulai dari usulan pemberian uang kerohiman atau ganti rugi hingga kegiatan operasi keamanan.
Belajar dari hal tersebut, akhirnya pengelola Taman Wisata Alam melakukan perubahan strategi dengan tindakan-tindakan yang lebih ekologis yaitu dengan melakukan penanaman jenis bakau, salah satu jenis tanaman mangrove. Di lokasi-lokasi tertentu dimana telah dilakukan penanaman dibuat pos-pos penjagaan yang dijaga oleh petugas keamanan. Disatu sisi kegiatan penanaman memberikan nilai positif bagi lingkungan dengan menghidupkan pabrik-pabrik penghasil oksigen, namun dari sisi sosial memberikan kerugian dengan menjadikan penanaman sebagai alat untuk mengusir masyarakat yang bermatapencaharian di tempat tersebut. Pastilah ada jalan kompromi yang saling menguntungkan...........
Pada masa pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Tentara Republik Indonesia menerapkan operasi pagar betis dengan membuat pos-pos penjagaan di jarak tertentu di kaki gunung untuk memutus pergerakan dan distribusi logistik pihak pemberontak.
Teknik yang tidak terlalu berbeda rupanya saat ini dilakukan di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, entah itu namanya benteng stelsel atau pagar betis. Bukan karena disana ada pemberontak atau untuk menumpas perlawanan bersenjata hal itu dilakukan, dan wujudnya pun tidak dalam bentuk bangunan benteng yang disertai senjata api.
Taman wisata Alam Angke Kapuk merupakan sebuah kawasan hutan yang terletak di pantai utara Jawa yang secara administrative berada di Jakarta Utara. Kawasan ini dibawah pengelolaan Balai konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta yang pengelolaannya dikonsesikan kepada pihak ketiga dalam hal ini adalah pihak PT Murindra. Selama ini permasalahan yang timbul dari sudut pandang pengelola adalah keberadaan tambak-tambak didalam kawasan. Usaha-usaha mengeluarkan petambak dari dalam kawasan telah banyka dilakukan, mulai dari usulan pemberian uang kerohiman atau ganti rugi hingga kegiatan operasi keamanan.
Belajar dari hal tersebut, akhirnya pengelola Taman Wisata Alam melakukan perubahan strategi dengan tindakan-tindakan yang lebih ekologis yaitu dengan melakukan penanaman jenis bakau, salah satu jenis tanaman mangrove. Di lokasi-lokasi tertentu dimana telah dilakukan penanaman dibuat pos-pos penjagaan yang dijaga oleh petugas keamanan. Disatu sisi kegiatan penanaman memberikan nilai positif bagi lingkungan dengan menghidupkan pabrik-pabrik penghasil oksigen, namun dari sisi sosial memberikan kerugian dengan menjadikan penanaman sebagai alat untuk mengusir masyarakat yang bermatapencaharian di tempat tersebut. Pastilah ada jalan kompromi yang saling menguntungkan...........
Thursday, February 28, 2008
“Ayah…..kita ke mesjid yuk..!!”
Azan magrib dari masjid dekat rumah terdengar, ketika aku sedang asyik menonton sebuah acara drama komedi di TV titipan teman. Nitya, yang sedang asyik membuka-buka buku datang menghampiri, ” Ayah....ayah....kita ke mesjid yuk..!!!”. Begitulah ajakannya setiap saat aku di rumah dan terdengar suara azan.
Begitulah kebiasaan baru Nitya semenjak dia dibelikan mukena oleh tante Susi, tetangga rumah ku. Satu set mukena atasan dan bawahan yang dibeli dari pasar Tanah Abang, dengan renda-renda sederhana pada bagian pinggirnya. Ukurannya masih terlalu besar untuk Nitya, sehingga saat dipakai, cukup hanya bagian atasannya saja sudah cukup tanpa memakai bagian bawahannya.

Saat menggunakan mukena, bagian bawahnya masih menyentuh lantai, Nitya pun tahu ketika berjalan menuju Masjid, ia menyingsingkan mukena yang dipakainya agar tidak menyentuh tanah. Dengan semangat nitya mengajak ke mesjid, meminta untuk berwudhu, memakai sendiri mukena miliknya dan berjalan menuju ke mesjid, walau tidak jarang saat kembali ke rumah dia mogok jalan dan terpaksalah aku harus menggendongnya.
Nitya masih belum mau sholat dalam shaf perempuan, dia masih berada disamping atau didepan ku kala sholat. Walau lebih sering hanya sekedar berdiri atau berjalan di sekeliling ku namun tidak jarang nit-nit pun turut mengikuti gerakan-gerakan sholat kami.
Semenjak itu, saat aku berada di rumah dan terdengar suara Azan, Nitya segera menghampiri ku dan berkata,” Ayah...ayah....kit ake mesjid yuk..!!!”
Begitulah kebiasaan baru Nitya semenjak dia dibelikan mukena oleh tante Susi, tetangga rumah ku. Satu set mukena atasan dan bawahan yang dibeli dari pasar Tanah Abang, dengan renda-renda sederhana pada bagian pinggirnya. Ukurannya masih terlalu besar untuk Nitya, sehingga saat dipakai, cukup hanya bagian atasannya saja sudah cukup tanpa memakai bagian bawahannya.

Saat menggunakan mukena, bagian bawahnya masih menyentuh lantai, Nitya pun tahu ketika berjalan menuju Masjid, ia menyingsingkan mukena yang dipakainya agar tidak menyentuh tanah. Dengan semangat nitya mengajak ke mesjid, meminta untuk berwudhu, memakai sendiri mukena miliknya dan berjalan menuju ke mesjid, walau tidak jarang saat kembali ke rumah dia mogok jalan dan terpaksalah aku harus menggendongnya.
Nitya masih belum mau sholat dalam shaf perempuan, dia masih berada disamping atau didepan ku kala sholat. Walau lebih sering hanya sekedar berdiri atau berjalan di sekeliling ku namun tidak jarang nit-nit pun turut mengikuti gerakan-gerakan sholat kami.
Semenjak itu, saat aku berada di rumah dan terdengar suara Azan, Nitya segera menghampiri ku dan berkata,” Ayah...ayah....kit ake mesjid yuk..!!!”
Monday, January 28, 2008
satu hari (lagi) di Angke
Rudi berlonjak-lonjak riang sesaat setelah mendapatkan pasangan setelah fasilitator meneriakkan kata penebang. Saat itu rudi berperan sebagai pohon yang harus berpasangan dengan seorang teman melindungi seekor monyet yang diperankan oleh teman lainnya. Ketika fasilitator meneriakkan kata penebang, peserta yang berperan menjadi pohon bergerak kearah hewan yang sedang berjongkok. Itu merupakan salah satu permainan yang dilakukan pada hari minggu kemarin, di Suaka Margasatwa Muara angke.
Hari itu serombongan anak-anak muda dari Cardoner JSN dengan membawa 20-an anak-anak dari panti asuhan mendapat pencerahan mengenai hutan mangrove dan lingkungan secara umum bersama relawan dari Jakarta Green Monster setelah pada pagi harinya membuktikan bakti terhadap alam melalui kegiatan penanaman bakau di Taman Wisata Alam. Kegiatan diisi dengan pengenalan mengenai jenis tumbuhan dan satwa di hutan mangrove, kualitas air dan tentang sampah. Selain itu diisi juga dengan permainan lingkungan dan saling membagi kesan dan pesan di akhir kegiatan.
Rudi, sang panitia pun turut menikmati kegiatan sepanjang hari itu, bersama peserta yang lain merasakan kesan pertama di Suaka Margasatwa Muara Angke. Yang diharapkan kesan itu akan berbekas pada perilaku semua yang teliabt di kegiatan hari itu menjadi lebih ramah terhadap diri sendiri, teman dan lingkungan. (k-v)
Hari itu serombongan anak-anak muda dari Cardoner JSN dengan membawa 20-an anak-anak dari panti asuhan mendapat pencerahan mengenai hutan mangrove dan lingkungan secara umum bersama relawan dari Jakarta Green Monster setelah pada pagi harinya membuktikan bakti terhadap alam melalui kegiatan penanaman bakau di Taman Wisata Alam. Kegiatan diisi dengan pengenalan mengenai jenis tumbuhan dan satwa di hutan mangrove, kualitas air dan tentang sampah. Selain itu diisi juga dengan permainan lingkungan dan saling membagi kesan dan pesan di akhir kegiatan.
Rudi, sang panitia pun turut menikmati kegiatan sepanjang hari itu, bersama peserta yang lain merasakan kesan pertama di Suaka Margasatwa Muara Angke. Yang diharapkan kesan itu akan berbekas pada perilaku semua yang teliabt di kegiatan hari itu menjadi lebih ramah terhadap diri sendiri, teman dan lingkungan. (k-v)
Subscribe to:
Posts (Atom)