Tuesday, May 12, 2009
Saat Penjaga adalah Perusak
Miris memang tapi begitulah kenyataannya. Ternyata memang tidak semua orang yang ditugaskan sebagai penjaga kelestarian hutan melaksanakan tugasnya atas dasar hati, tapi hanyalah karena tuntutan pekerjaan sehingga, semestinya orang-orang ini menjadi pengayom dan contoh bagi orang lain ternyata menjadi sebaliknya, menjadi contoh bagi orang lain untuk merusak ekosistem yang ada.
Saturday, May 02, 2009
knowing-cara buat kiamat itu sangatlah mudah
Semalam bersama beberapa teman, melepas kepenatan sehari-hari dengan nonton bareng film knowing yang dibintangi Nicholas Cage. Film ini bercerita tentang bagaimana mudahnya Tuhan menciptakan kiamat buat manusia. Cukup dengan sedikit membuat loncatan bunga api dari matahari ke arah Bumi, maka peradaban di muka bumi segera musnah. Tapi sebenarnya diluar itu semua, tanpa tuhan turut ikut campur tangan pun, manusia sudah menciptakan kiamat-kiamat buat mereka sendiri.
Penebangan hutan dengan tidak memperhatikan asas kelestarian, eksploitasi sumberdaya tambang dan perikanan secara berlebihan, tidak mempedulikan sampah yang dibuang sehari-hari sudah cukup menciptakan kiamat-kiamat kecil bagi umat manusia.
Tuesday, April 07, 2009
di satu tempat
di satu tempat di Selatan Jakarta
di sebuah pojok pusat perbelanjaan besar
ditemani musik rasta dan diskusi ringan meja seberang
mengacuhkan lalu lalang orang yang keluar dan masuk
Di satu tempat di Selatan Jakarta
di kebiasaan yang tidak biasa lima tahun sebelumnya
ditemani coklat dingin dan sebuah donat
menikmati facebook dan imel gratisan
Di satu tempat di Selatan Jakarta
tersenyum memandang sosok diseberang meja
ditengah alunan Santana
akankah kembali terulang......
di satu tempat di Selatan Jakarta
Monday, November 24, 2008
PERTUNJUKAN TEATRIKAL TENTANG MANGROVE
Satu persatu anggota kelompok pengamatan tumbuhan tampil dihadapan para peserta yang lain dengan membawa selembar kertas berisi nama-nama tumbuhan mangrove diiringi monolog seorang penampil lainnya yang menerangkan tentang mangrove dan kondisinya saat ini di Jakarta. itu adalah penampilan salah satu kelompok siswa SMA yang berasal dari 30 sekolah setingkat SMA di wilayah Jakarta yang tergabung dalam komunitas Teen Go Green yang diinisiasi oleh Yayasan Kehati & Ancol.
Selama satu hari penuh difasilitasi oleh relawan Jakarta Green Monster, dimulai pukul setengah sepuluh sekitar 70 pelajar berkumpul di Suaka Margasatwa Muara Angke. Diawali dengan penjelasan mengenai kawasan oleh pak Taton, seorang staff BKSDA, selanjutnya mereka mengelompokkan diri dalam 3 kelompok besar, berdasarkan aktivitas yang akan diikuti, yaitu pengamatan Tumbuhan, satwa dan polusi. Kelompok pengamatan tumbuhan & sebagian kelompok pengamat satwa melakukan aktivitas di Hutan Lindung Angke kapuk, sementara kelompok pengamatan polusi dan sebagain pengamatan satwa melakukan kegiatan di Suaka Margasatwa Muara Angke.
Setelah kurang lebih 2 jam melakukan aktivitas di kelompok masing-masing. Kelompok tumbuhan membuat herbarium, kelompok satwa melakukan identifikasi burung dan hewan lain yang dijumpai, dan kelompok polusi mengukur kadar BOD dan pH air sungai, semua kelompok kembali ke Suaka Margasatwa Muara Angke untuk beristirahat dan makan siang.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan presentasi dari setiap kelompok pengamatan, dan hasilnya salah satunya adalah apa yang telah ditampilkan oleh kelompok tumbuhan dalam bentuk treatikal. Dengan menggunakan media yang telah disediakan, seperti kertas berwarna, spidol warna, lem, kertas plano, setiap kelompok membuat presentasi semenarik mungkin.
Selama satu hari penuh difasilitasi oleh relawan Jakarta Green Monster, dimulai pukul setengah sepuluh sekitar 70 pelajar berkumpul di Suaka Margasatwa Muara Angke. Diawali dengan penjelasan mengenai kawasan oleh pak Taton, seorang staff BKSDA, selanjutnya mereka mengelompokkan diri dalam 3 kelompok besar, berdasarkan aktivitas yang akan diikuti, yaitu pengamatan Tumbuhan, satwa dan polusi. Kelompok pengamatan tumbuhan & sebagian kelompok pengamat satwa melakukan aktivitas di Hutan Lindung Angke kapuk, sementara kelompok pengamatan polusi dan sebagain pengamatan satwa melakukan kegiatan di Suaka Margasatwa Muara Angke.
Setelah kurang lebih 2 jam melakukan aktivitas di kelompok masing-masing. Kelompok tumbuhan membuat herbarium, kelompok satwa melakukan identifikasi burung dan hewan lain yang dijumpai, dan kelompok polusi mengukur kadar BOD dan pH air sungai, semua kelompok kembali ke Suaka Margasatwa Muara Angke untuk beristirahat dan makan siang.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembuatan presentasi dari setiap kelompok pengamatan, dan hasilnya salah satunya adalah apa yang telah ditampilkan oleh kelompok tumbuhan dalam bentuk treatikal. Dengan menggunakan media yang telah disediakan, seperti kertas berwarna, spidol warna, lem, kertas plano, setiap kelompok membuat presentasi semenarik mungkin.
Saturday, August 16, 2008
refleksi 17-an
Wuih....sudah lama juga enggak ngisi blog ini, jadi berdebu dan sedikit kusam. Pukul 1.02 tanggal 17 Agustus 2008, saat penting bagi bangsa Indonesia karena ini merupakan kali ke 63 dirayakan kemerdekaan Indonesia.
63 bukanlah waktu yang singkat, Rasulullah wafat pada usia 63 tahun dengan meninggalkan segudang keberhasilan dan kemegahan yang tidak hanya dirasakan pada masanya namun juga menjadi panutan bagi sebagian umat manusia di muka bumi. untuk sebuah pernikahan, angka 63 merupakan angka dimana sepasang suami istri sudah melewati masa pernikahan emas.
63 saat ini disandang Indonesia, dengan beranekaragam kisah di dalamnya. Mulai dari pemiskinan masyarakat dengan BLT hingga ketidakmampuan pemerintah berdiri sendiri dalam mengelola sumberdaya minyak, mulai dari kisah Ryan sang jagal hingga bekas pejabat dan pejabat yang diperiksa KPK.
Di angka 63 waktunya kembali merefleksi lagi kemana arah bangsa ini hendak dibawa..............
63 bukanlah waktu yang singkat, Rasulullah wafat pada usia 63 tahun dengan meninggalkan segudang keberhasilan dan kemegahan yang tidak hanya dirasakan pada masanya namun juga menjadi panutan bagi sebagian umat manusia di muka bumi. untuk sebuah pernikahan, angka 63 merupakan angka dimana sepasang suami istri sudah melewati masa pernikahan emas.
63 saat ini disandang Indonesia, dengan beranekaragam kisah di dalamnya. Mulai dari pemiskinan masyarakat dengan BLT hingga ketidakmampuan pemerintah berdiri sendiri dalam mengelola sumberdaya minyak, mulai dari kisah Ryan sang jagal hingga bekas pejabat dan pejabat yang diperiksa KPK.
Di angka 63 waktunya kembali merefleksi lagi kemana arah bangsa ini hendak dibawa..............
Tuesday, July 08, 2008
BENTENG STELSEL DI HUTAN MANGROVE
Salah satu kunci kekalahan Tuanku Imam Bonjol yang terkenal dengan perang Padrinya adalah strategi yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan meletakkan pos-pos penjagaan di setiap daerah yang telah dikuasainya sehingga membatasi pergerakan para pejuang dan memecah konsentrasi jumlah pejuang. Strategi ini dikenal dengan istilah benteng stelsel.
Pada masa pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Tentara Republik Indonesia menerapkan operasi pagar betis dengan membuat pos-pos penjagaan di jarak tertentu di kaki gunung untuk memutus pergerakan dan distribusi logistik pihak pemberontak.
Teknik yang tidak terlalu berbeda rupanya saat ini dilakukan di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, entah itu namanya benteng stelsel atau pagar betis. Bukan karena disana ada pemberontak atau untuk menumpas perlawanan bersenjata hal itu dilakukan, dan wujudnya pun tidak dalam bentuk bangunan benteng yang disertai senjata api.
Taman wisata Alam Angke Kapuk merupakan sebuah kawasan hutan yang terletak di pantai utara Jawa yang secara administrative berada di Jakarta Utara. Kawasan ini dibawah pengelolaan Balai konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta yang pengelolaannya dikonsesikan kepada pihak ketiga dalam hal ini adalah pihak PT Murindra. Selama ini permasalahan yang timbul dari sudut pandang pengelola adalah keberadaan tambak-tambak didalam kawasan. Usaha-usaha mengeluarkan petambak dari dalam kawasan telah banyka dilakukan, mulai dari usulan pemberian uang kerohiman atau ganti rugi hingga kegiatan operasi keamanan.
Belajar dari hal tersebut, akhirnya pengelola Taman Wisata Alam melakukan perubahan strategi dengan tindakan-tindakan yang lebih ekologis yaitu dengan melakukan penanaman jenis bakau, salah satu jenis tanaman mangrove. Di lokasi-lokasi tertentu dimana telah dilakukan penanaman dibuat pos-pos penjagaan yang dijaga oleh petugas keamanan. Disatu sisi kegiatan penanaman memberikan nilai positif bagi lingkungan dengan menghidupkan pabrik-pabrik penghasil oksigen, namun dari sisi sosial memberikan kerugian dengan menjadikan penanaman sebagai alat untuk mengusir masyarakat yang bermatapencaharian di tempat tersebut. Pastilah ada jalan kompromi yang saling menguntungkan...........
Pada masa pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Tentara Republik Indonesia menerapkan operasi pagar betis dengan membuat pos-pos penjagaan di jarak tertentu di kaki gunung untuk memutus pergerakan dan distribusi logistik pihak pemberontak.
Teknik yang tidak terlalu berbeda rupanya saat ini dilakukan di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, entah itu namanya benteng stelsel atau pagar betis. Bukan karena disana ada pemberontak atau untuk menumpas perlawanan bersenjata hal itu dilakukan, dan wujudnya pun tidak dalam bentuk bangunan benteng yang disertai senjata api.
Taman wisata Alam Angke Kapuk merupakan sebuah kawasan hutan yang terletak di pantai utara Jawa yang secara administrative berada di Jakarta Utara. Kawasan ini dibawah pengelolaan Balai konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta yang pengelolaannya dikonsesikan kepada pihak ketiga dalam hal ini adalah pihak PT Murindra. Selama ini permasalahan yang timbul dari sudut pandang pengelola adalah keberadaan tambak-tambak didalam kawasan. Usaha-usaha mengeluarkan petambak dari dalam kawasan telah banyka dilakukan, mulai dari usulan pemberian uang kerohiman atau ganti rugi hingga kegiatan operasi keamanan.
Belajar dari hal tersebut, akhirnya pengelola Taman Wisata Alam melakukan perubahan strategi dengan tindakan-tindakan yang lebih ekologis yaitu dengan melakukan penanaman jenis bakau, salah satu jenis tanaman mangrove. Di lokasi-lokasi tertentu dimana telah dilakukan penanaman dibuat pos-pos penjagaan yang dijaga oleh petugas keamanan. Disatu sisi kegiatan penanaman memberikan nilai positif bagi lingkungan dengan menghidupkan pabrik-pabrik penghasil oksigen, namun dari sisi sosial memberikan kerugian dengan menjadikan penanaman sebagai alat untuk mengusir masyarakat yang bermatapencaharian di tempat tersebut. Pastilah ada jalan kompromi yang saling menguntungkan...........
Thursday, February 28, 2008
“Ayah…..kita ke mesjid yuk..!!”
Azan magrib dari masjid dekat rumah terdengar, ketika aku sedang asyik menonton sebuah acara drama komedi di TV titipan teman. Nitya, yang sedang asyik membuka-buka buku datang menghampiri, ” Ayah....ayah....kita ke mesjid yuk..!!!”. Begitulah ajakannya setiap saat aku di rumah dan terdengar suara azan.
Begitulah kebiasaan baru Nitya semenjak dia dibelikan mukena oleh tante Susi, tetangga rumah ku. Satu set mukena atasan dan bawahan yang dibeli dari pasar Tanah Abang, dengan renda-renda sederhana pada bagian pinggirnya. Ukurannya masih terlalu besar untuk Nitya, sehingga saat dipakai, cukup hanya bagian atasannya saja sudah cukup tanpa memakai bagian bawahannya.

Saat menggunakan mukena, bagian bawahnya masih menyentuh lantai, Nitya pun tahu ketika berjalan menuju Masjid, ia menyingsingkan mukena yang dipakainya agar tidak menyentuh tanah. Dengan semangat nitya mengajak ke mesjid, meminta untuk berwudhu, memakai sendiri mukena miliknya dan berjalan menuju ke mesjid, walau tidak jarang saat kembali ke rumah dia mogok jalan dan terpaksalah aku harus menggendongnya.
Nitya masih belum mau sholat dalam shaf perempuan, dia masih berada disamping atau didepan ku kala sholat. Walau lebih sering hanya sekedar berdiri atau berjalan di sekeliling ku namun tidak jarang nit-nit pun turut mengikuti gerakan-gerakan sholat kami.
Semenjak itu, saat aku berada di rumah dan terdengar suara Azan, Nitya segera menghampiri ku dan berkata,” Ayah...ayah....kit ake mesjid yuk..!!!”
Begitulah kebiasaan baru Nitya semenjak dia dibelikan mukena oleh tante Susi, tetangga rumah ku. Satu set mukena atasan dan bawahan yang dibeli dari pasar Tanah Abang, dengan renda-renda sederhana pada bagian pinggirnya. Ukurannya masih terlalu besar untuk Nitya, sehingga saat dipakai, cukup hanya bagian atasannya saja sudah cukup tanpa memakai bagian bawahannya.

Saat menggunakan mukena, bagian bawahnya masih menyentuh lantai, Nitya pun tahu ketika berjalan menuju Masjid, ia menyingsingkan mukena yang dipakainya agar tidak menyentuh tanah. Dengan semangat nitya mengajak ke mesjid, meminta untuk berwudhu, memakai sendiri mukena miliknya dan berjalan menuju ke mesjid, walau tidak jarang saat kembali ke rumah dia mogok jalan dan terpaksalah aku harus menggendongnya.
Nitya masih belum mau sholat dalam shaf perempuan, dia masih berada disamping atau didepan ku kala sholat. Walau lebih sering hanya sekedar berdiri atau berjalan di sekeliling ku namun tidak jarang nit-nit pun turut mengikuti gerakan-gerakan sholat kami.
Semenjak itu, saat aku berada di rumah dan terdengar suara Azan, Nitya segera menghampiri ku dan berkata,” Ayah...ayah....kit ake mesjid yuk..!!!”
Monday, January 28, 2008
satu hari (lagi) di Angke
Rudi berlonjak-lonjak riang sesaat setelah mendapatkan pasangan setelah fasilitator meneriakkan kata penebang. Saat itu rudi berperan sebagai pohon yang harus berpasangan dengan seorang teman melindungi seekor monyet yang diperankan oleh teman lainnya. Ketika fasilitator meneriakkan kata penebang, peserta yang berperan menjadi pohon bergerak kearah hewan yang sedang berjongkok. Itu merupakan salah satu permainan yang dilakukan pada hari minggu kemarin, di Suaka Margasatwa Muara angke.
Hari itu serombongan anak-anak muda dari Cardoner JSN dengan membawa 20-an anak-anak dari panti asuhan mendapat pencerahan mengenai hutan mangrove dan lingkungan secara umum bersama relawan dari Jakarta Green Monster setelah pada pagi harinya membuktikan bakti terhadap alam melalui kegiatan penanaman bakau di Taman Wisata Alam. Kegiatan diisi dengan pengenalan mengenai jenis tumbuhan dan satwa di hutan mangrove, kualitas air dan tentang sampah. Selain itu diisi juga dengan permainan lingkungan dan saling membagi kesan dan pesan di akhir kegiatan.
Rudi, sang panitia pun turut menikmati kegiatan sepanjang hari itu, bersama peserta yang lain merasakan kesan pertama di Suaka Margasatwa Muara Angke. Yang diharapkan kesan itu akan berbekas pada perilaku semua yang teliabt di kegiatan hari itu menjadi lebih ramah terhadap diri sendiri, teman dan lingkungan. (k-v)
Hari itu serombongan anak-anak muda dari Cardoner JSN dengan membawa 20-an anak-anak dari panti asuhan mendapat pencerahan mengenai hutan mangrove dan lingkungan secara umum bersama relawan dari Jakarta Green Monster setelah pada pagi harinya membuktikan bakti terhadap alam melalui kegiatan penanaman bakau di Taman Wisata Alam. Kegiatan diisi dengan pengenalan mengenai jenis tumbuhan dan satwa di hutan mangrove, kualitas air dan tentang sampah. Selain itu diisi juga dengan permainan lingkungan dan saling membagi kesan dan pesan di akhir kegiatan.
Rudi, sang panitia pun turut menikmati kegiatan sepanjang hari itu, bersama peserta yang lain merasakan kesan pertama di Suaka Margasatwa Muara Angke. Yang diharapkan kesan itu akan berbekas pada perilaku semua yang teliabt di kegiatan hari itu menjadi lebih ramah terhadap diri sendiri, teman dan lingkungan. (k-v)
Saturday, January 19, 2008
multiplying fun
Menarik apa yang terjadi kala sore tadi saat kembali dari Taman Wisata Alam Angke Kapuk ke Suaka Margasatwa Muara Angke setelah melakukan pengamatan burung. Saat sedang asyik duduk dibelakang tukang ojek yang sedang mengendarai motor melewati salah satu kompleks pemukiman elit di lingkungan pantai indah kapuk, di sebuah sudut jalan terlihat keramaian yang berbeda.
Mobil dari berbagai merk tampak diparkir di tepi jalan dan di jaga oleh staff keamanan berseragam, anak-anak dan ibu-ibu beserta para emban pengasuh tampak berkumpul di sebuah lapangan. Banyak terdapat bangunan-bangunan yang kesemuanya terbuat dari plastik tebal yg diisi dengan angin, anak-anak sibuk berlarian dan keluar masuk diantara bangunan tersebut.
Mungkin gambaran diatas adalah hal biasa disebuah taman bermain, anak-anak yang tertawa-tawa, ibu-ibunya yang sibuk bersosialisasi diantara sesamanya dan para emban yang sibuk menjaga anak tuannya. Tampak sekali kegembiraan diantara mereka semua. Namun gambaran di sore itu menjadi lain karena tidak jauh dari lokasi tersebut, tampak sekumpulan laki-laki mulai dari yang berusia remaja hingga paruh baya berpencaran di pembatas jalan di sekitar lokasi. Mereka tampak juga dalam posisi santai, ada yang duduk bahkan ada yang sambil tidur-tiduran, terkadang terlihat obrolan kecil diantara mereka sambil sesekal mereka tersenyum dan tertawa-tawa. Walaupun dalam posisi yang berbeda namun pandangan mereka terarah ke satu tempat. Tidak lain dan tidak bukan pada tempat dimana terdapat tempat bermain.
Ternyata kegembiraan penghuni kompleks elit sore itu juga membawa kegembiraan bagi para buruh bangunan yang sedang beristirahat setelah seharian berpeluh-peluh dengan pasir dan semen. Hanya mereka yang tahu mengapa kegembiraan di taman bermain menjadi tontonan para tenaga bangunan tersebut. Apakah karena bangunan-bangunan berisi angin?, karena riuh rendahnya anak-anak?, atau karena cara berpakaian mereka yang memang kebanyakan kaum hawa dan terkesan santai? hanya mereka yang tahu......................
Mobil dari berbagai merk tampak diparkir di tepi jalan dan di jaga oleh staff keamanan berseragam, anak-anak dan ibu-ibu beserta para emban pengasuh tampak berkumpul di sebuah lapangan. Banyak terdapat bangunan-bangunan yang kesemuanya terbuat dari plastik tebal yg diisi dengan angin, anak-anak sibuk berlarian dan keluar masuk diantara bangunan tersebut.
Mungkin gambaran diatas adalah hal biasa disebuah taman bermain, anak-anak yang tertawa-tawa, ibu-ibunya yang sibuk bersosialisasi diantara sesamanya dan para emban yang sibuk menjaga anak tuannya. Tampak sekali kegembiraan diantara mereka semua. Namun gambaran di sore itu menjadi lain karena tidak jauh dari lokasi tersebut, tampak sekumpulan laki-laki mulai dari yang berusia remaja hingga paruh baya berpencaran di pembatas jalan di sekitar lokasi. Mereka tampak juga dalam posisi santai, ada yang duduk bahkan ada yang sambil tidur-tiduran, terkadang terlihat obrolan kecil diantara mereka sambil sesekal mereka tersenyum dan tertawa-tawa. Walaupun dalam posisi yang berbeda namun pandangan mereka terarah ke satu tempat. Tidak lain dan tidak bukan pada tempat dimana terdapat tempat bermain.
Ternyata kegembiraan penghuni kompleks elit sore itu juga membawa kegembiraan bagi para buruh bangunan yang sedang beristirahat setelah seharian berpeluh-peluh dengan pasir dan semen. Hanya mereka yang tahu mengapa kegembiraan di taman bermain menjadi tontonan para tenaga bangunan tersebut. Apakah karena bangunan-bangunan berisi angin?, karena riuh rendahnya anak-anak?, atau karena cara berpakaian mereka yang memang kebanyakan kaum hawa dan terkesan santai? hanya mereka yang tahu......................
Thursday, January 03, 2008
impian sepasang kekasih
"kekasihku...........usahlah terlalu kuat engkau mendayung," sang perempuan berujar kepada lelaki pasangannya yang berada di buritan sebuah sampan mendorongkan sebilah kayu panjang ke dalam air membawa perahu itu melaju. " Tidak apa-apa dinda, kakanda masih lah kuat mendorong sampan ini hingga ke jembatan di depan sana.
"Aku ingin menikmati indahnya sungai ini kakanda ku," ujar sang perempuan. "Aku ingin menikmati betapa indahnya kampung ku, kakanda...," tambahnya. "Baiklah dinda ku terkasih," ujar sang lelaki mengurangi laju kayuhan bilah kayu yang dipegangnya.
Tidak kah kau lihat kakanda, betapa indahnya sungai kampung ku ini," ujar sang perempuan sambil menengok pasangannya dengan mesra. " kanan kiri sungai hijau oleh rimbunnya pepohonan.", lanjutnya sambil sesekali menarik nafas dalam-dalam menikmati udara sungai.
"Lihat disana kakanda, ada pancuran yang mengalirkan air dari mata air di atas bukit sana." Sang perempuan sedikit memekik ketika dilihatnya pancuran di tepi sungai. " Begitu jernihnya air ini, sehingga pantas saja air sungai pun tampak jernih...." ujar sang perempuan memandang ke arah pancuran.
"Wah.... ikannya pasti banyak di sungai ini ya?" tanya sang lelaki dengan tetap mendorongkan bilah kayu di tangannya dengan perlahan. "Lihat, orang pun tidak perlu menggunakan jaring untuk mencari ikan.", tambah sang lelaki. "Woy pak nelayan.........banyakkah tangkapan hari ini?" teriak sang lelaki ke pada seorang bersampan yang berada di sisi seberang. "Yah....lumayan lah," ujar sang lelaki dengan agak pelan. "Dapat ikan apa saja? tanya sang lelaki penuh semangat. "gelas plastik, botol, kaleng, dan beberapa yang lainnya." ujar sang nelayan dengan sedikit enggan. "Semoga melimpah ya hasil hari ini...", kembali sang lelaki memekik kepada sang nelayan. "Iya, terimakasih." jawab sang nelayan hampir tak terdengar.
Kembali kedua kekasih itu melanjutkan perjalanannya menikmati kehidupan di tepi sungai. "Kakanda kusayang, dinda berharap kita dapat tetap tinggal disini," ujar sang perempuan lembut, "menikmati anak-anak kita lahir dan tumbuh serta bermain-main di tepi sungai seperti anak-anak itu." lanjut sang perempuan dengan tatapan mengarah kepada sekelompok anak yang sedang bermain di tepi sungai. "Iya, dindaku," jawab sang lelaki. "kakanda nanti akan mengajarkan anak-anak kita berenang di sungai ini, sehingga mereka nanti menjadi anak-anak yang pemberani dan pandai berenang,"ucap sang lelaki memandang mesra kepada sang perempuan.

"Kita hampir sampai kakanda," ujar sang perempuan menoleh kepada sang lelaki. "Menepi dan perapatlah di dekat jembatan itu," sambung sang perempuan menunjuk kearah jembatan bambu dengan anyaman yang sangat indah. "Bukan kah seperti ini tempat yang kita impikan bersama Kakang." kata sang perempuan merapihkan posisi duduknya. "Betul dinda ku, tempat yang sesuai bagi anak-anak kita tumbuh dan dewasa." jawab sang lelaki dengan pandangan mengawang.
"Aku ingin menikmati indahnya sungai ini kakanda ku," ujar sang perempuan. "Aku ingin menikmati betapa indahnya kampung ku, kakanda...," tambahnya. "Baiklah dinda ku terkasih," ujar sang lelaki mengurangi laju kayuhan bilah kayu yang dipegangnya.Tidak kah kau lihat kakanda, betapa indahnya sungai kampung ku ini," ujar sang perempuan sambil menengok pasangannya dengan mesra. " kanan kiri sungai hijau oleh rimbunnya pepohonan.", lanjutnya sambil sesekali menarik nafas dalam-dalam menikmati udara sungai.
"Lihat disana kakanda, ada pancuran yang mengalirkan air dari mata air di atas bukit sana." Sang perempuan sedikit memekik ketika dilihatnya pancuran di tepi sungai. " Begitu jernihnya air ini, sehingga pantas saja air sungai pun tampak jernih...." ujar sang perempuan memandang ke arah pancuran.
"Wah.... ikannya pasti banyak di sungai ini ya?" tanya sang lelaki dengan tetap mendorongkan bilah kayu di tangannya dengan perlahan. "Lihat, orang pun tidak perlu menggunakan jaring untuk mencari ikan.", tambah sang lelaki. "Woy pak nelayan.........banyakkah tangkapan hari ini?" teriak sang lelaki ke pada seorang bersampan yang berada di sisi seberang. "Yah....lumayan lah," ujar sang lelaki dengan agak pelan. "Dapat ikan apa saja? tanya sang lelaki penuh semangat. "gelas plastik, botol, kaleng, dan beberapa yang lainnya." ujar sang nelayan dengan sedikit enggan. "Semoga melimpah ya hasil hari ini...", kembali sang lelaki memekik kepada sang nelayan. "Iya, terimakasih." jawab sang nelayan hampir tak terdengar.
Kembali kedua kekasih itu melanjutkan perjalanannya menikmati kehidupan di tepi sungai. "Kakanda kusayang, dinda berharap kita dapat tetap tinggal disini," ujar sang perempuan lembut, "menikmati anak-anak kita lahir dan tumbuh serta bermain-main di tepi sungai seperti anak-anak itu." lanjut sang perempuan dengan tatapan mengarah kepada sekelompok anak yang sedang bermain di tepi sungai. "Iya, dindaku," jawab sang lelaki. "kakanda nanti akan mengajarkan anak-anak kita berenang di sungai ini, sehingga mereka nanti menjadi anak-anak yang pemberani dan pandai berenang,"ucap sang lelaki memandang mesra kepada sang perempuan.
"Kita hampir sampai kakanda," ujar sang perempuan menoleh kepada sang lelaki. "Menepi dan perapatlah di dekat jembatan itu," sambung sang perempuan menunjuk kearah jembatan bambu dengan anyaman yang sangat indah. "Bukan kah seperti ini tempat yang kita impikan bersama Kakang." kata sang perempuan merapihkan posisi duduknya. "Betul dinda ku, tempat yang sesuai bagi anak-anak kita tumbuh dan dewasa." jawab sang lelaki dengan pandangan mengawang.
Tuesday, December 11, 2007
THERE ARE SOME HOPE
Kuparkir motor bebek kesayangan ku di depan sebuah swalayan yang terletak di pertigaan yang selalu sibuk ke arah kampus dalam. Sembari menunggu istri tercintaku mencari-cari barang di dalam swalayan, masih tetap berada diatas motor, aku menikmati suasana kesimpangsiuran lalu lintas kampus Darmaga Angkutan kota dari tiga penjuru wilayah yang berhenti seenaknya, motor yang seakan memiliki hak veto untuk membatalkan hak pengendara dari arah berlawanan dan selalu mengisi tempat yang kosong, pedagang kaki lima yang mengisi semua ruas trotoar sehingga pejalan kaki pun harus bersaing dengan motor dan mobil, dan yang tidak kalah menyenangkan adalah bertebarannya berbagai jenis sampah dari beragam ukuran dan bentuk menambah panorama pertigaan tidak cukup dengan itu, saluran air pun menjadi tidak punya arti dengan beragam jenis buangan langsung yang kebingungan kemana ingin mengalir.
Seorang anak laki-laki berpakaian kemeja lengan pendek berwarna merah cerah dan bercorak garis-garis tidak beraturan tampak keluar dari swalayan. Ditangan kirinya membawa sebuah payung kecil yang masih terlipat rapi dan di tangan kanan dia membawa sebuah bungkusan plastik dengan benda seperti tusuk gigi di dalamnya, tampaknya itu adalah plastik bekas pembungkus makanan seperti somay yang dimakan dengan cara ditusuk.
Dia nampak menanyakan sesuatu kepada seorang pegawai swalayan yang kebetulan sedang berada di luar. Sang pegawai swalayan menunjuk ke sebuah arah yang memang tidak kuperhatikan selama waktu menunggu yang terletak di pojok swalayan yang tepat berada di sebelah kiri ku. Anak tersebut, yang menurut ku berumur sekitar 10 tahun berjalan kearah tempat yang ditunjuk pegawai swalayan dan berjalan melewati ku dan membuang bekas pembungkus makanan yang dibawanya ke tempat itu. Tempat sampah…….ternyata anak tersebut menanyakan tempat sampah.
Saat itu aku tersenyum sendiri, ada keharuan menyeruak, ternyata ditempat dimana di tempat para intelektual di tempa, karena keseriusannya dalam belajar dan berkarya menjadikan lingkungan sekitar menjadi teracuhkan ditambah lagi dengan kekurang pedulian orang-oran gyang sehari-hari berada disana, masih ada yang masih ingat dengan fungsi tempat sampah.
Berapa lagi ada pribadi-pribadi seperti anak berkemeja itu, satu, dua, sepuluh, seratus? Bagaimana dengan diri ku sendiri? Kehadiran anak tersebut memberikan harapan besar untuk kita masih dapat melihat lingkungan yang agak bersih dari sampah.
Seorang anak laki-laki berpakaian kemeja lengan pendek berwarna merah cerah dan bercorak garis-garis tidak beraturan tampak keluar dari swalayan. Ditangan kirinya membawa sebuah payung kecil yang masih terlipat rapi dan di tangan kanan dia membawa sebuah bungkusan plastik dengan benda seperti tusuk gigi di dalamnya, tampaknya itu adalah plastik bekas pembungkus makanan seperti somay yang dimakan dengan cara ditusuk.
Dia nampak menanyakan sesuatu kepada seorang pegawai swalayan yang kebetulan sedang berada di luar. Sang pegawai swalayan menunjuk ke sebuah arah yang memang tidak kuperhatikan selama waktu menunggu yang terletak di pojok swalayan yang tepat berada di sebelah kiri ku. Anak tersebut, yang menurut ku berumur sekitar 10 tahun berjalan kearah tempat yang ditunjuk pegawai swalayan dan berjalan melewati ku dan membuang bekas pembungkus makanan yang dibawanya ke tempat itu. Tempat sampah…….ternyata anak tersebut menanyakan tempat sampah.
Saat itu aku tersenyum sendiri, ada keharuan menyeruak, ternyata ditempat dimana di tempat para intelektual di tempa, karena keseriusannya dalam belajar dan berkarya menjadikan lingkungan sekitar menjadi teracuhkan ditambah lagi dengan kekurang pedulian orang-oran gyang sehari-hari berada disana, masih ada yang masih ingat dengan fungsi tempat sampah.
Berapa lagi ada pribadi-pribadi seperti anak berkemeja itu, satu, dua, sepuluh, seratus? Bagaimana dengan diri ku sendiri? Kehadiran anak tersebut memberikan harapan besar untuk kita masih dapat melihat lingkungan yang agak bersih dari sampah.
Thursday, November 08, 2007
kado istimewa
Seusai shalat Jum'at khotib mengumumkan agar jamaah tidak beranjak dulu dari tempat dan mengikuti shalat mayit. Jamaah di bagian tengah saf menyeruak ke pinggir memberi kesempatan sang jenazah dibawa ke depan jemaah. memandang jenazah saat melewati ku, dibawa dalam keranda terbungkus kain berwarna hijau diberi untaian-untaian bunga melati dan dibawa oleh 8 orang jamaah.
Jenazah diletakkan didepan jamaah, diam tanpa gerak dan suara, mendengar tapi tak kuasa lagi untuk bicara, merasa tapi tak kuasa lagi untuk bergerak. Mengingatkan jamaah yang hadir, beginilah nantinya kita semua, tinggal menjadi seonggok daging yang siap dinikmati oleh makhluk-makhluk tanah.
Saat kita lahir, sekeliling kita tersenyum bahagia sedangkan kita menangis membayangkan segala hal yang akan kita lakukan nanti. Saat kita mati, semuanya kita yang menentukan apakah sekeliling kita akan menangis atau malah tertawa bahagia, apakah kita akan mati tersenyum atau kembali menangis saat pergi.
Hmmmm..................................
Terimakasih atas kado istimewa ini.......
Jenazah diletakkan didepan jamaah, diam tanpa gerak dan suara, mendengar tapi tak kuasa lagi untuk bicara, merasa tapi tak kuasa lagi untuk bergerak. Mengingatkan jamaah yang hadir, beginilah nantinya kita semua, tinggal menjadi seonggok daging yang siap dinikmati oleh makhluk-makhluk tanah.
Saat kita lahir, sekeliling kita tersenyum bahagia sedangkan kita menangis membayangkan segala hal yang akan kita lakukan nanti. Saat kita mati, semuanya kita yang menentukan apakah sekeliling kita akan menangis atau malah tertawa bahagia, apakah kita akan mati tersenyum atau kembali menangis saat pergi.
Hmmmm..................................
Terimakasih atas kado istimewa ini.......
Wednesday, October 31, 2007
LAMPION JEPANG
Menyusuri jalan-jalan di pinggiran ibukota, dikota yang disesaki dengan kemacetan dan dihiasi gemericik hujan.
Seruas senyum manis menemani dengan semerbak harum teh hangat di gelas kaca.
Kerapuhan yang nampak membalut kekuatan yang tak nampak.
Biarkanlah…biarkanlah…….
Lembaran-lembaran itu terkoyak
Bangun dan berdiri lah dari mimpi siang yang melelahkan
Bergegaslah ke udara bebas dan kumpulkan kepingan jiwa
Kepingan-kepingan itulah yang senantiasa menjaga
Mengiringi hari-hari menyusuri jalan dihiasi gemericik hujan
Mencari terang-terang temaram..........
Terang temaram lampion Jepang.........................
Thursday, August 16, 2007
TAMPARAN DI HARI KEBEBASAN
Besok Indonesia merdeka untuk kesekian kalinya, tapi ternyata makna kemerdekaan belum juga bisa di dapat oleh sebagian "besar" orang Indonesia. Menarik apa yang dibuat oleh Dedi Mizwar di bulan sakral ini melalui filmnya berjudul Naga Bonar Jadi 2. Dalam film itu, Dedi Mizwar menampar semua orang Indonesia, terutama para oportunis sejati. Semangat heroisme yang saat ini telah luntur disindir ketika si Naga Bonar memberi hormat di depan patung Proklamator dan saat dia menangis melihat patung jenderal Sudirman yang sedang dalam posisi menghormat menghadap ke arah jalan, sementara setiap harinya ratusan kendaraan lalu lalang melewatinya tanpa pernah memperdulikan.
Pertanyaan kecil dari Naga Bonar kepada pengendara Bajaj di depan Makam Pahlawan,"apakah mereka semua pahlawan". Menimbulkan pemikiran untuk memperjelas definisi "pahlawan" dalam arti sebenarnya. Apakah semua yang dikubur secara kemiliteran di yang katanya makam pahlawan semuanya adalah pahlawan, apakah sebutan pahlawan tanpa tanda jasa saat ini layak diberikan kepada semua orang yang memiliki status sebagai guru, apakah orang yang bangun saat matahari belum terbit dan kembali ke rumah saat matahari telah terbenam untuk mencari pencaharian untuk keluarga yang tinggal di petak kontrakkan bukan seorang pahlawan. Apakah seseorang disebut pahlawan jika dia bercerita bahwa dia adalah pahlawan atau dia disebut pahlawan karena menyembunyikan kepahlawanannya?
Hubungan anak dan Bapak digambarkan oleh Dedi Mizwar sebagai keadaan yang santai, penuh keceriaan, sarat pemaafan dan sang bapak selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putranya. Sang anak memandang cara memberikan kebahagiaan kepada sang Bapak dari sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang Bapak melihat kebahagiaan.
Dedi Mizwar tetap mempertahankan ending yang menyenangkan semua orang dan tidak mengakhiri filmnya dengan kisah-kisah tragis. Pada akhirnya memang kasih sayang dan hubungan anak dan orang tua menyingkirkan semua kemungkinan-kemungkinan kebahagiaan yang lain. Mempertahankan hubungan darah merupakan pilihan yang sangat manusiawi dilakukan, khususnya bagi orang-orang timur seperti di Indonesia.
Selamat ulang tahun Indonesia.......................
Pertanyaan kecil dari Naga Bonar kepada pengendara Bajaj di depan Makam Pahlawan,"apakah mereka semua pahlawan". Menimbulkan pemikiran untuk memperjelas definisi "pahlawan" dalam arti sebenarnya. Apakah semua yang dikubur secara kemiliteran di yang katanya makam pahlawan semuanya adalah pahlawan, apakah sebutan pahlawan tanpa tanda jasa saat ini layak diberikan kepada semua orang yang memiliki status sebagai guru, apakah orang yang bangun saat matahari belum terbit dan kembali ke rumah saat matahari telah terbenam untuk mencari pencaharian untuk keluarga yang tinggal di petak kontrakkan bukan seorang pahlawan. Apakah seseorang disebut pahlawan jika dia bercerita bahwa dia adalah pahlawan atau dia disebut pahlawan karena menyembunyikan kepahlawanannya?
Hubungan anak dan Bapak digambarkan oleh Dedi Mizwar sebagai keadaan yang santai, penuh keceriaan, sarat pemaafan dan sang bapak selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi putranya. Sang anak memandang cara memberikan kebahagiaan kepada sang Bapak dari sudut pandang yang berbeda dengan sudut pandang Bapak melihat kebahagiaan.
Dedi Mizwar tetap mempertahankan ending yang menyenangkan semua orang dan tidak mengakhiri filmnya dengan kisah-kisah tragis. Pada akhirnya memang kasih sayang dan hubungan anak dan orang tua menyingkirkan semua kemungkinan-kemungkinan kebahagiaan yang lain. Mempertahankan hubungan darah merupakan pilihan yang sangat manusiawi dilakukan, khususnya bagi orang-orang timur seperti di Indonesia.
Selamat ulang tahun Indonesia.......................
Friday, June 15, 2007
SATU HARI LAGI DI ANGKE
Sepasang Itik benjut terbang rendah dari rimbunnya rerumputan sesaat perahu mendekat, namun kembali berenang tidak jauh dari tempatnya semula dan tidak mempedulikan munculnya perahu dari balik rerumputan. suasana lain tampak menyeruak saat perahu mulai bergerak ketengah rawa di Suaka Margasatwa Muara Angke, seperti tidak berada di sesaknya kota Jakarta. Lima ekor Kuntul besar tampak dengan tenangnya berdiri dengan anggun di antara gerumbul kitower menikmati sengatan sinar matahari.
Perahu kayu melaju lambat mengikuti kayuhan dayung menuju ke asosiasi nipah di barat laut kawasan. Selama menyusuri tengah rawa nampak hilir mudik Pecuk Ular dengan lehernya yang panjang terbang dan hinggap diantara pohon-pohon pidada. Sebagian lagi terlihat dipucuk-pucuk pidada membentangkan sayapnya menyapa sang mentari dan berharap panasnya dapat mengeringkan bulu-bulu terbangnya. Mendekati kumpulan Nipah, nampak beterbangan Kowak malam dan Kokokan laut keluar dari antara bilah-bilah Nipah dengan suara-suara mereka yang khas melengking parau.
Di salah satu bilah nipah nampak seekor Cekakak Sungai dengan seksama memperhatikan permukaan air di bawahnya, dan dengan gerakan yang cepat luar biasa masuk kedalam air dan kembali ketempat dimana dia bertengger tadi dengan seekor ikan di paruhnya. Perahusekarang telah bergerak meninggalkan rimbunan Nipah dan beralih ke kumpulan Pidada yang beberapa berukuran besar namun sudah tidak sehat lagi. Sesekali perahu harus berhenti karena terhalang potongan-potongan bambu yang tidak lagi dijadikan ajir atau karena dangkal. Keriuhan Prenjak Jawa dan Kipasan belang mewarnai perjalanan kembali ke tengah rawa.
Melihat ke tengah rawa dengan latar belakang rimbunan Pidada dan dibelakangnya terlihat empat bangunan apartemen berdiri menjulang merupakan suatu pemandangan yang sangat kontras. Terkenang saat setahun yang lalu ditengah rawa dipenuhi tumbuhan eksotis Eceng gondok yang membuat orang sulit untuk mengarungi rawa, yang sekarang sudah menghilang karena lancarnya aliran air laut. Semoga tetap ada.........
Perahu kayu melaju lambat mengikuti kayuhan dayung menuju ke asosiasi nipah di barat laut kawasan. Selama menyusuri tengah rawa nampak hilir mudik Pecuk Ular dengan lehernya yang panjang terbang dan hinggap diantara pohon-pohon pidada. Sebagian lagi terlihat dipucuk-pucuk pidada membentangkan sayapnya menyapa sang mentari dan berharap panasnya dapat mengeringkan bulu-bulu terbangnya. Mendekati kumpulan Nipah, nampak beterbangan Kowak malam dan Kokokan laut keluar dari antara bilah-bilah Nipah dengan suara-suara mereka yang khas melengking parau.
Di salah satu bilah nipah nampak seekor Cekakak Sungai dengan seksama memperhatikan permukaan air di bawahnya, dan dengan gerakan yang cepat luar biasa masuk kedalam air dan kembali ketempat dimana dia bertengger tadi dengan seekor ikan di paruhnya. Perahusekarang telah bergerak meninggalkan rimbunan Nipah dan beralih ke kumpulan Pidada yang beberapa berukuran besar namun sudah tidak sehat lagi. Sesekali perahu harus berhenti karena terhalang potongan-potongan bambu yang tidak lagi dijadikan ajir atau karena dangkal. Keriuhan Prenjak Jawa dan Kipasan belang mewarnai perjalanan kembali ke tengah rawa.
Melihat ke tengah rawa dengan latar belakang rimbunan Pidada dan dibelakangnya terlihat empat bangunan apartemen berdiri menjulang merupakan suatu pemandangan yang sangat kontras. Terkenang saat setahun yang lalu ditengah rawa dipenuhi tumbuhan eksotis Eceng gondok yang membuat orang sulit untuk mengarungi rawa, yang sekarang sudah menghilang karena lancarnya aliran air laut. Semoga tetap ada.........
Wednesday, April 25, 2007
ANGKA 3
Hmmmm................setelah pengalaman itu baru deh aku sadari kalau angka 3 memiliki tempat khusus di kehidupan manusia. Kalau ada hajatan atau acara-acara yang memerlukan sound system, selalu setiap check sound angka terakhir adalah angka 3, setiap aba-aba dalam olahraga angka terakhir sebagai titik bergerak adalah angka 3, lampu lalulintas jumlahnya 3, Jumlah minimal untuk sesuatu berdiri tegak harus memiliki kaki yang simetris sejumlah 3, SMP dan SMA masing-masing ada 3 tingkatan, Kerusakan rumah tangga lebih banyak diawali dengan kehadiran orang ke-3, dan lain-lain silahkan cari sendiri deh........
Akhirnya, angka 3 itu juga terjadi juga pada diriku. Kejadiannya di suatu pulau di kawasan kepualuan seribu, aku gak mau nyebut n ama tempatnya ah, berada di dekat dengan pulau Rambut dan merupakan pulau terdekat dari Jakarta dimana terdapat pemukiman. Waktunya minggu dinihari tanggal 22 april 2007 bertepatan dengan peringatan hari bumi. Saat itu aku ma temen-temen ceritanya mau ngetest ilmu penolak angin dengan tidur di pantai ber 7, angin berhembus kencang membuat tidur semakin enak dengan posisi menggulung. Sehingga tidak tersadar keesokan harinya saat terbangun, semua yang memiliki sendal gunung celingukan kesegala arah mencari-cari sang alas kaki.
Ternyata eh ternyata, semua sandal gunung kami sudah tidak berada di tempatnya lagi. Yang paling mengesalkan adalah ini adalah kejadian ke-3 kalinya untuk ku di pulau yang sama. Kesannya lebih bodoh dari keledai ya....., tapi itu mungkin akibat terlalu berbaik sangka tehadap orang, ketika hilang pertama kali perhitungan ku adalah orang iseng, kejadian kedua kali fikirku memang musibah, tapi.......3x, ampun-ampun deh. Sudah gitu yang ketiga kalinya kejadiannya berjamaah lagi. Wah ini sih memang sudah niat.
angka 3.....angka 3........
Akhirnya, angka 3 itu juga terjadi juga pada diriku. Kejadiannya di suatu pulau di kawasan kepualuan seribu, aku gak mau nyebut n ama tempatnya ah, berada di dekat dengan pulau Rambut dan merupakan pulau terdekat dari Jakarta dimana terdapat pemukiman. Waktunya minggu dinihari tanggal 22 april 2007 bertepatan dengan peringatan hari bumi. Saat itu aku ma temen-temen ceritanya mau ngetest ilmu penolak angin dengan tidur di pantai ber 7, angin berhembus kencang membuat tidur semakin enak dengan posisi menggulung. Sehingga tidak tersadar keesokan harinya saat terbangun, semua yang memiliki sendal gunung celingukan kesegala arah mencari-cari sang alas kaki.
Ternyata eh ternyata, semua sandal gunung kami sudah tidak berada di tempatnya lagi. Yang paling mengesalkan adalah ini adalah kejadian ke-3 kalinya untuk ku di pulau yang sama. Kesannya lebih bodoh dari keledai ya....., tapi itu mungkin akibat terlalu berbaik sangka tehadap orang, ketika hilang pertama kali perhitungan ku adalah orang iseng, kejadian kedua kali fikirku memang musibah, tapi.......3x, ampun-ampun deh. Sudah gitu yang ketiga kalinya kejadiannya berjamaah lagi. Wah ini sih memang sudah niat.
angka 3.....angka 3........
Tuesday, February 06, 2007
PERJALANAN CAMELIA

Camelia sinensis atau lebih dikenal dengan nama teh ternyata melalui perjalanan yang panjang sebelum akhirnya sampai di meja, disajikan hangat-hangat sebagai teman bersantai pada sore hari. Dimulai dari tempat dengan ketinggian tertentu, antara 200-2000 meter dari muka air laut, tanaman ini ditanam secara berbaris dengan jarak 1 meter.
Daerah dengan curah hujan 1000-1250 mm per tahun dan memiliki temperatur 10-30 0C merupakan tempat ideal bagi teh untuk tumbuh dan kabut di pegunungan berfungsi sebagai pelindung terhadap sinar matahari yang terlalu terik dan memberikan kelembaban yang sesuai, sehingga dedaunan dapat tumbuh dengan lambat dan tetap lunak. Dengan masa hidup produktif selama 50-70 tahun, tanaman teh dapat dipetik selama 7-12 hari dalam musim pertumbuhan, hanya pucuk tehnya saja lah yang dipetik oleh perempuan-perempuan pemetik teh.
Untuk tetap mendapatkan daun muda dengan kualitas yang baik, dilakukan pemangkasan setiap 4-5 tahun, disamping menjaga ketinggian pohon agar tetap maksimal 1 meter agar mudah di petik. Jika dibiarkan tanpa pemangkasan, Camelia dapat terus bertambah tinggi hingga 12 m.Teh dikenal di Indonesia sejak tahun 1686 ketika seorang Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu penggunaannya hanya sebagai tanaman hias. Baru pada tahun 1728, pemerintah Belanda membudidayakannya di Jawa dan menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat dalam politk Tanam Paksa (Culture Stetsel) pada pemerintahan gubernur Van Den Bosh.
Teh yang telah dipetik selanjutnya dibawa ke pabrik pengolahan yang biasanya jaraknya tidak jauh dari lokasi perkebunan. Tahap pertama, sesampainya teh kedalam pabrik adalah ketempat pelayuan, yaitu sederetan loyang logam (wire mesh ) yang dibawahnya terdapat ruangan kosong yang berisi aliran udara panas. Dengan lama waktu 9-12 jam, teh dibiarkan di tempat pelayuan agar kadar air yang terkandung dalam teh dapat berkurang hingga 70%.
Selanjutnya teh yang telah dinikmati oleh manusia sejak tahun 2737 sebelum masehi di daratan China ini dimasukkan kedalam mesin penggilingan yang mempergunakan pisau yang berputar dengan kecepatan tinggi. Setelah itu masuk kedalam 4 mesin pencacah secara berurutan hingga menghasilkan potongan daun teh yang halus dan seragam.
Dari proses penggilingan, teh melalui proses fermentasi. Proses fermentasi atau juga disebut proses oksidasi merupakan suatu proses dimana enzim-enzim yang ada di dalam daun teh bersentuhan dengan udara dan mulai teroksidasi. Hal inilah yang menghasilkan bau, warna, dan mutu dari teh. Proses ini lah yang menjadi pembeda antara teh hijau, teh oolong dan teh hitam. Teh hijau tidak melalui proses fermentasi atau kalaupun melalui proses ini namun dalam waktu yang relatif singkat, teh oolong mengalami fermentasi sebagian dan teh hitam mengalami fermentasi atau oksidasi secara penuh. Pada proses yang memakan waktu kurang lebih 2 jam ini daun teh berubah warna dari hijau, menjadi coklat muda, lalu coklat tua, dan perubahan warna daun ini terjadi pada temperatur 26 derajat.
Melalui sabuk konveyor dari wadah fermentasi, teh masuk kedalam proses selanjutnya yaitu pengeringan. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air hingga 2% juga untuk menghentikan proses oksidasi/fermentasi yang terjadi.
Setelah melalui proses pengeringan, teh masuk kedalam proses penyaringan. Teh masuk kedalam beberapa alat penyaringan yang memilah teh berdasarkan kualitasnya yang dapat dibedakan dari ukuran partikel teh yang tersaring. Teh yang berkualitas baik menurut ahlinya memiliki rasa yang agak sepat, dan itu biasanya diperoleh dari daun-daun teh muda yang dipetik hanya sejumlah 3 helai dari pucuk. Sementara teh yang banyak mengandung batang memiliki aroma yang harum yang ternyata teh yang seperti ini merupakan teh kualitas rendah.Untuk melakukan kontrol terhadap kualitas hasil proses berjalan, dilakukan pengujian terhadap teh yang telah di kelompokkan berdasarkan kualitas tadi. Pengujian ini dilakukan dengan mencicipi rasa dari setiap kelompok kualitas teh, yang dilakukan oleh orang yang memang sudah berpengalaman dalam membedakan rasa. Sehingga tersaji teh dalam berbagai rasa yang khas .(Disarikan dari berbagai sumber)
Thursday, January 11, 2007
Ciliwung

Matahari Jakarta masihlah menyengat ketika kami mulai menurunkan perahu karet ke sungai Ciliwung di bawah jembatan TB Simatupang. Pantas saja, di arloji ku masih menunjukkan pukul 2 siang lebih sedikit. Muka air Ciliwung nampak rendah, anak-anak yang sedang asyik mandi pun dapat dengan tenang melangkah menyeberanginya. Dengan perlahan kami mulai mendayung menyusuri sungai yang membelah Jakarta ini.
Ternyata, Ciliwung masih menjadi tempat favorit untuk masyarakat sekitarnya untuk mencari ikan baik mempergunakan kail maupun dengan jala dan untuk anak-anak mandi. Namun, juga menjadi tempat favorit pula bagi masyarakat yang tinggal dibantaran sungai sebagai tempat mebuang limbah mereka. Sepanjang sungai yang kami arungi, puluhan pipa dan saluran pembuangan mengarah ke sungai, mengalirkan air-air bekas mencuci, mandi dan membuat tahu tempe langsung ke tubuh sang Ciliwung. Tidak hanya itu saja, sepanjang mata memandang selama perjalanan tiada satu titik pun yang bersih dari sampah.
Sampah-sampah domestik, mulai yang berukuran kecil seperti kantung plastik sampai yang berukuran besar seperti sofa terhampar di kanan dan kiri sungai. Lebih miris ketika melihat gunung sampah di pinggir sungai yang dapat dipastikan ketinggiannya lebih dari 10 m. Lebih parah lagi ternyata ada gunungan-gunungan sampah tersebut merupakan tempat pembuangan sampah akhir ”resmi” milik kelurahan di sepanjang Ciliwung.
Kesinergian semua pihak menjadi kunci dalam menyelamatkan Ciliwung, keseriusan pemerintah daerah dalam mewujudkan kota yang bersih, dukungan pihak swasta dalam menciptakan Ciliwung bersih, kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya, kesediaan tempat sampah yang memadai, alternatif pemanfaatan sampah merupakan opsi-opsi yang dapat menyelesaikan masalah. Namun itu semua hanyalah mimpi jika tidak dimulai dari kita sendiri.
Thursday, January 04, 2007
5 jam yang melelahkan
Pukul 10.00 hingga pukul 15.00 merupakan waktu potensial untuk bekerja. Karenanya diantara waktu itulah biasanya ditetapkan sebagai jam kerja normal. Namun, selama kurang lebih 5 jam itu, pada Kamis kemarin seakan terbuang percuma hanya demi menunggu secarik kertas.
Sehari sebelumnya, tepatnya pada Rabu, aku mengirimkan fax surat permintaan ijin masuk kawasan konservasi ke pihak BKSDA DKI Jakarta, dengan harapan sehari setelahnya (kamis) dapat diproses cepat. Sekitar pukul 10 aku datang ke kantor BKSDA dan diberitahukan bahwa surat belum diproses, tidak berapa lama aku disodorkan simaksi yang harus ditandatangani diatas materai Rp. 6000,-, sejauh ini masih menjanjikan untuk cepat selesainya proses perijinan. Sekitar pukul 12-an staff BKSDA sibuk persiapan istirahat dan makan siang. Sampai dititik ini aku menyadari bahwa surat pastilah baru akan selesai setelah jam makan siang. Setelah jam makan siang, yang barangkali selesai jam 1an, proses menunggu masih berlangsung.
Sekitar pukul 2-an datanglah dua orang turis dari Jerman. Ternyata mereka bermaksud melakukan kunjungan ke Muara Angke, dan oleh staff BKSDA mereka diminta untuk mengurus ijin berkunjung. Ternyata tidak berapa lama, mungkin hanya berselang 10 menit dari mereka menyerahkan kartu identitas untuk difotokopi, surat ijin mereka sudah selesai dan segera melenggang dari kantor BKSDA.
Sementara ketika kutanyakan mengenai status surat ijinku, dijawab masih harus mengetik untuk alamat di amplop. Alamakjan……..begini rupanya nasib bumiputera, menjadi kelas dua bagi bangsanya sendiri.
Ijin masuk ke kawasan konservasi, ku rasakan masih diperlukan untuk mendata siapa dan untuk apa masuk ke dalam kawasan konservasi. Akan sangat membantu jika prosedur pembuatannya dibuat sederhana dan cepat. Buktinya contoh pengalaman ku alami kamis kemarin, ternyata bisa kok hanya dengan hitungan menit dapat selesai, atau mungkin saat pengurusan kita harus berwajah bule, rambut kemerahan dan berpenampilan alakadarnya dapat membuat cepat diproses.
Waktu terbuang percuma hanya untuk menunggu keluarnya simaksi ini tidak hanya kemarin saja, aku alami. Sangat disayangkan jika hal ini masih terus terjadi, karena dapat menjadi preseden buruk terhadap kinerja orang pemerintahan yang memang sudah dipandang tidak baik.
Sehari sebelumnya, tepatnya pada Rabu, aku mengirimkan fax surat permintaan ijin masuk kawasan konservasi ke pihak BKSDA DKI Jakarta, dengan harapan sehari setelahnya (kamis) dapat diproses cepat. Sekitar pukul 10 aku datang ke kantor BKSDA dan diberitahukan bahwa surat belum diproses, tidak berapa lama aku disodorkan simaksi yang harus ditandatangani diatas materai Rp. 6000,-, sejauh ini masih menjanjikan untuk cepat selesainya proses perijinan. Sekitar pukul 12-an staff BKSDA sibuk persiapan istirahat dan makan siang. Sampai dititik ini aku menyadari bahwa surat pastilah baru akan selesai setelah jam makan siang. Setelah jam makan siang, yang barangkali selesai jam 1an, proses menunggu masih berlangsung.
Sekitar pukul 2-an datanglah dua orang turis dari Jerman. Ternyata mereka bermaksud melakukan kunjungan ke Muara Angke, dan oleh staff BKSDA mereka diminta untuk mengurus ijin berkunjung. Ternyata tidak berapa lama, mungkin hanya berselang 10 menit dari mereka menyerahkan kartu identitas untuk difotokopi, surat ijin mereka sudah selesai dan segera melenggang dari kantor BKSDA.
Sementara ketika kutanyakan mengenai status surat ijinku, dijawab masih harus mengetik untuk alamat di amplop. Alamakjan……..begini rupanya nasib bumiputera, menjadi kelas dua bagi bangsanya sendiri.
Ijin masuk ke kawasan konservasi, ku rasakan masih diperlukan untuk mendata siapa dan untuk apa masuk ke dalam kawasan konservasi. Akan sangat membantu jika prosedur pembuatannya dibuat sederhana dan cepat. Buktinya contoh pengalaman ku alami kamis kemarin, ternyata bisa kok hanya dengan hitungan menit dapat selesai, atau mungkin saat pengurusan kita harus berwajah bule, rambut kemerahan dan berpenampilan alakadarnya dapat membuat cepat diproses.
Waktu terbuang percuma hanya untuk menunggu keluarnya simaksi ini tidak hanya kemarin saja, aku alami. Sangat disayangkan jika hal ini masih terus terjadi, karena dapat menjadi preseden buruk terhadap kinerja orang pemerintahan yang memang sudah dipandang tidak baik.
Tuesday, December 12, 2006
TONG SAMPAH SAJA TAK KAN CUKUP
Menuruni undakan yang sebagian masih tanah terasa memasuki daerah lain yang tidak ada di Jakarta. Nuansa hijauan tanaman buah duku, rambutan dan nangka diantara rimbunan tanaman salak condet yang terkenal. Dengan luasan yang tidak lebih besar dari sebuah lapangan bola menghampar beragam tanaman buah yang dapat dipastikan sebagai salah satu penyelamat Jakarta dari ledakan karbon akibat kendaraan bermotor dan aktivitas produksi. Sebagai Jejak ekosistem kebun Jakarta tempo dulu yang tersisa di Balekambang yang berada di pinggir sungai Ciliwung menjadikan daerah ini sangat berpotensi untuk rusak akibat abrasi saat Ciliwung meluap.
Tepat disebelahnya ternyata ada tempat penampungan sampah legal yang memang disewa oleh pihak kelurahan sebagai tempat pembuangan sampah. Bayangkan, pihak Kelurahan yang semestinya menjaga kebersihan dan keindahan Sungai Ciliwung, malahan menjadikannya sebagai bak sampah bagi masyarakatnya. Tanah dipinggir sungai Ciliwunglah yang disewa untuk dijadikan tempat pembuangan sampah, namun pada prakteknya tumpukan sampah tersebut diratakan kearah sungai yang otomatis akan jatuh kebadan sungai. Pemilik tanah mendapatkan sewa dari tanah yang dimilikinya, namun sungai Ciliwung, yang tidak merasakan ”hak sewa” namun turut ”disewakan” dengan jatuhnya sampah ke sungai.
Sebuah masalah yang kompleks yang harus segera diatasi. Diperlukan pemahaman semua pihak yang terkait mengenai fungsi bantaran sungai dan pembuangan sampah yang bijaksana, perlunya alternatif mata pencaharian bagi pekerja pengangkut sampah yang minimalnya pendapatan yang diterima sama dengan ketika mereka bekerja mengangkut sampah, perlunya manajemen dan kesepakatan dalam pengelolaan sampah. Sehingga saat tempat pembuangan akhir pinggir sungai ini tutup, semua yang terlibat mendapatkan solusi yang tidak merugikan. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tidak akan selesai hanya dengan membagikan tong sampah................
Subscribe to:
Comments (Atom)