Tuesday, July 08, 2008

BENTENG STELSEL DI HUTAN MANGROVE

Salah satu kunci kekalahan Tuanku Imam Bonjol yang terkenal dengan perang Padrinya adalah strategi yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan meletakkan pos-pos penjagaan di setiap daerah yang telah dikuasainya sehingga membatasi pergerakan para pejuang dan memecah konsentrasi jumlah pejuang. Strategi ini dikenal dengan istilah benteng stelsel.

Pada masa pemberontakan DI/TII di Jawa Barat, Tentara Republik Indonesia menerapkan operasi pagar betis dengan membuat pos-pos penjagaan di jarak tertentu di kaki gunung untuk memutus pergerakan dan distribusi logistik pihak pemberontak.

Teknik yang tidak terlalu berbeda rupanya saat ini dilakukan di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, entah itu namanya benteng stelsel atau pagar betis. Bukan karena disana ada pemberontak atau untuk menumpas perlawanan bersenjata hal itu dilakukan, dan wujudnya pun tidak dalam bentuk bangunan benteng yang disertai senjata api.

Taman wisata Alam Angke Kapuk merupakan sebuah kawasan hutan yang terletak di pantai utara Jawa yang secara administrative berada di Jakarta Utara. Kawasan ini dibawah pengelolaan Balai konservasi Sumberdaya Alam DKI Jakarta yang pengelolaannya dikonsesikan kepada pihak ketiga dalam hal ini adalah pihak PT Murindra. Selama ini permasalahan yang timbul dari sudut pandang pengelola adalah keberadaan tambak-tambak didalam kawasan. Usaha-usaha mengeluarkan petambak dari dalam kawasan telah banyka dilakukan, mulai dari usulan pemberian uang kerohiman atau ganti rugi hingga kegiatan operasi keamanan.

Belajar dari hal tersebut, akhirnya pengelola Taman Wisata Alam melakukan perubahan strategi dengan tindakan-tindakan yang lebih ekologis yaitu dengan melakukan penanaman jenis bakau, salah satu jenis tanaman mangrove. Di lokasi-lokasi tertentu dimana telah dilakukan penanaman dibuat pos-pos penjagaan yang dijaga oleh petugas keamanan. Disatu sisi kegiatan penanaman memberikan nilai positif bagi lingkungan dengan menghidupkan pabrik-pabrik penghasil oksigen, namun dari sisi sosial memberikan kerugian dengan menjadikan penanaman sebagai alat untuk mengusir masyarakat yang bermatapencaharian di tempat tersebut. Pastilah ada jalan kompromi yang saling menguntungkan...........